11 January 2026

Kisah Pemuda 23 Tahun Kena Demensia dan Meninggal Setahun setelah Diagnosis

Foto: Getty Images/gorodenkoff

Demensia sering kali dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang lansia. Namun, kisah Andre Yarham, seorang pemuda berusia 24 tahun asal Inggris, menjadi pengingat pahit bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia yang sangat produktif.

Andre meninggal dunia pada 27 Desember lalu setelah berjuang melawan Frontotemporal Dementia (FTD) atau demensia frontotemporal. Kondisinya menurun drastis hanya dalam waktu singkat sejak diagnosisnya tepat sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-23.

Gejala Awal yang Tak Terduga

Berbicara kepada Daily Mail, ibunda Andre, Sam Fairbairn (49), mulai merasa ada yang salah ketika putra yang biasanya ceria dan cerewet itu berubah menjadi pelupa. Andre mulai memberikan jawaban singkat saat diajak bicara dan sering menunjukkan ekspresi wajah kosong.

Hasil MRI pada Oktober 2023 mengungkap terjadi atrofi atau penyusutan pada lobus frontal otaknya. Konsultan medis bahkan menyebut hasil pemindaian otak Andre saat itu mirip dengan "otak seseorang berusia 70 tahun".

Belakangan diketahui bahwa penyakitnya dipicu oleh mutasi protein genetik yang langka.

Meski fisiknya melemah, Sam dan suaminya sempat mengajak Andre menyelesaikan beberapa keinginan dalam bucket list-nya, termasuk menonton gulat langsung di Nottingham.

Namun, pada September tahun lalu, mobilitas Andre menurun drastis hingga ia harus menggunakan kursi roda dan akhirnya dipindahkan ke fasilitas perawatan khusus.

Infeksi yang menyerang sistem imunnya yang lemah akhirnya membuat Andre harus menjalani perawatan akhir hayat (end-of-life care). Andre kemudian meninggal tak lama setelah perayaan natal.

"Ini adalah penyakit paling kejam karena tidak ada pengobatan. Tidak ada yang bisa membantu meredakan gejalanya. Anda menonton, berduka, dan kehilangan orang tersebut berulang kali," ungkap Sam.

Menyumbangkan Otak untuk Sains

Meski Andre kehilangan kemampuan bicara di akhir hidupnya, pihak keluarga yakin bahwa pemuda tersebut akan setuju untuk membantu orang lain. Keluarga Andre pun memutuskan untuk mendonasikan otaknya ke Rumah Sakit Addenbrooke di Cambridge untuk kepentingan riset.

Sam berharap langkah ini bisa membantu peneliti menemukan pengobatan, atau setidaknya cara untuk memperpanjang hidup penderita demensia lainnya di masa depan.

"Harapan kami, meskipun bukan obat penawar, semoga riset ini membuahkan pengobatan yang bisa memperpanjang umur seseorang, memberi mereka beberapa tahun lagi bersama orang tersayang. Itu akan sangat luar biasa," tambahnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Nasib Pilu Pemuda 23 Tahun Kena Demensia, Meninggal Setahun setelah Diagnosis"