10 April 2026

Content Creator Bikin Video Mirip Mendiang Artis, Ini Komentar Ahli Jiwa

Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/12963734)

Belakangan, publik dibuat geleng-geleng kepala oleh content creator yang membuat video dengan tujuan meniru salah satu mendiang artis. Bahkan, ia banyak memanen hujatan dari warganet karena dianggap memaksa.

Content creator ini bisa dikatakan meniru hampir semuanya, seperti gaya rambut, cara berpakaian, hingga ekspresi wajah. Bahkan, ia cukup percaya diri mengklaim dirinya mampu menjadi 'penawar rindu' dari fans mendiang artis tersebut.

Tentunya, aksi ini disorot oleh keluarga hingga teman-teman dekat dari mendiang artis tersebut karena dianggap mencari panggung di suasana duka.

Keinginan Validasi Sosial

Ditanya mengenai fenomena ini, psikiater sekaligus Anggota Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI dr Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan secara umum fenomena seperti ini lebih tepat dipahami sebagai perilaku imitasi atau imitative behavior.

"Didorong oleh kebutuhan validasi sosial dan pencarian atensi di ruang digital. Di media sosial, respons seperti like, komentar, dan viralitas dapat menjadi reward psikologis yang sangat kuat," kata dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Rabu (8/4/2026).

"Namun, batasnya menjadi penting ketika konten tersebut mulai menimbulkan rasa tidak nyaman bagi keluarga dan orang-orang terdekat almarhum," sambungnya.

dr Lahargo menambahkan, secara psikologis, mengidolakan figur publik adalah hal yang wajar selama masih dalam batas inspirasi yang sehat, bukan sampai mengaburkan identitas diri atau memanfaatkan momen duka untuk kepentingan popularitas.

"Batas wajar mengidolakan publik figur adalah ketika kekaguman tersebut tetap disertai empati, rasa hormat, dan sensitivitas terhadap keluarga yang sedang berduka," tegasnya.

"Ketika atensi lebih diutamakan daripada empati, maka yang terjadi bukan lagi bentuk apresiasi, tetapi berpotensi menjadi eksploitasi emosi publik," lanjutnya.

Biasanya, para 'peniru' ini mencari perhatian dan pengakuan sosial, peningkatan eksistensi diri, kedekatan emosional, hingga keuntungan personal dan ekonomi saat menjadi viral.

"Mengidolakan itu manusiawi, tetapi saat viralitas mengalahkan empati, penghormatan bisa berubah menjadi eksploitasi," tutupnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Viral Content Creator 'Maksa' Mirip Mendiang Artis, Ahli Jiwa Singgung soal Ini"