11 April 2026

Dampak Baby Whip pada Kesehatan

Foto: Gilang Faturahman/detikFoto

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menemukan peredaran ilegal gas nitrogen monoksida (N₂O) atau dikenal sebagai 'gas tawa'. Produk yang ditemukan kali ini bermerek Baby Whip yang diperjualbelikan secara daring lewat akun media sosial, seperti Facebook, WhatsApp, di Instagram, di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menjelaskan penyalahgunaan gas N₂O telah menjadi perhatian nasional dalam beberapa bulan terakhir lantaran trennya meningkat. Selain itu, akibat penyalahgunaan gas medis ini telah menyebabkan adanya korban jiwa.

"Kita tahu dalam konteks keilmuwan, yang kita kita sebut dinitrogen oksida ini merupakan pengembangan dari asam amonia yang berkembang, dan dipisahkan menjadi antara N₂O dengan terakhir amonium, jadi menghasilkan urea," jelas Taruna dalam konferensi pers, Kamis (9/4/2026).

"Jadi, efek dinitrogen oksida itu sebetulnya gas medik yang digunakan di ruang anestesi atau ruang bius sebetulnya untuk membantu proses sedatifnya (penenang), sehingga sebelum pasien itu dioperasi dengan penggunaan gas ini pasien mengantuk, kemudian hilang rasa cemasnya. Itu fungsi utamanya," tambahnya.

Namun, Taruna mengungkapkan efek dari N₂O yang sebetulnya gas medik ini digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab karena ada efek euforia dan penenangnya. Hal itu yang membuat N₂O disebut sebagai 'gas tawa', karena pada saat tertentu penggunanya merasa masalahnya hilang.

Terkait dampak jangka pendeknya, pengguna N₂O ini akan mengalami hendaya atau ketidakmampuan signifikan dalam menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik. Tetapi, jangka panjangnya bisa memicu ketergantungan atau adiktif.

"Tapi, jangka panjangnya kan bisa menyebabkan ketergantungan, khususnya ketergantungan atau adiktif secara psikologis. Karena dia merasakan bukan zatnya, beda dengan narkotika," ucap Taruna.

"Kalau ini ketergantungan psikologis, dan bisa berdampak hal yang lebih parah lagi. Apalagi dengan dipadukan dengan zat-zat yang tidak diperuntukan dengan dosis tinggi, menyebabkan pernapasannya hipoksia (jaringan tubuh tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup), dan ujung-ujungnya kan bisa meninggal," sambung dia.

Pandangan dari Ahli

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed,, penggunaan gas nitrous oxide ini bisa memberikan dampak beracun yang merusak fungsi vitamin B12 di dalam tubuh, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan saraf.

Akibatnya, tubuh tidak dapat menjalankan proses penting yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan saraf.

"Gangguan ini menyebabkan kerusakan pada lapisan pelindung saraf atau meilin, baik pada sistem saraf pusat maupun saraf tepi," katanya, dikutip dari laman resmi IPB University.

dr Agil menjelaskan kerusakan itu menimbulkan berbagai keluhan, seperti kesemutan, kelemahan, gangguan keseimbangan, hingga saraf akibat terganggunya aliran darah. Sementara dari berbagai laporan ilmiah, gangguan saraf yang paling sering muncul akibat penyalahgunaan N2O adalah kerusakan pada sumsum tulang belakang, terutama bagian yang berperan dalam fungsi rasa dan keseimbangan tubuh.

Selain itu, dr Agil juga menyebut N₂O dapat bereaksi dengan zat lain di dalam tubuh dan membentuk senyawa yang sangat reaktif dan berbahaya. Senyawa itu dapat merusak sel, memicu peradangan, serta menyebabkan kematian sel.

"Selain itu, N₂O dapat menghambat mitokondria sebagai penghasil energi sel, sehingga produksi energi menurun dan sel, terutama sel saraf, berisiko mati," tegasnya.

Gas ini juga dapat mengubah hemoglobin dalam darah sehingga tidak mampu mengikat oksigen secara optimal. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kulit tampak kebiruan dan jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Efek Baby Whip pada Kesehatan, 'Gas Tawa' Ilegal yang Ditemukan BPOM di Jakbar"