26 April 2026

Terkait 19 Ribu Sapi per Hari untuk MBG Ternyata Hanya Pengandaian

Foto: (Getty Images/JannHuizenga)

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana meluruskan pernyataannya terkait 19.000 ekor sapi per hari untuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurutnya, angka tersebut adalah simulasi atau pengandaian perhitungan, bukan kondisi riil harian. Perhitungan itu didasarkan pada asumsi jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak menu berbahan dasar daging sapi.

"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," jelas Dadan usai meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi, Selasa (21/4).

Dadan menerangkan, dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu SPPG berkisar antara 350 hingga 382 kilogram. Jumlah tersebut setara dengan daging dari satu ekor sapi.

"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja," paparnya.

Meski begitu, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional dalam program MBG. Kebijakan tersebut dihindari untuk mencegah lonjakan kebutuhan bahan pangan yang berpotensi memicu kenaikan harga di pasar.

Ia mencontohkan pengalaman saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu. Saat itu, menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.

"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000," ungkapnya.

Berkaca dari pengalaman tersebut, BGN kini memilih pendekatan yang lebih fleksibel dalam penyusunan menu MBG. Menu disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal serta preferensi masyarakat di masing-masing daerah.

"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," tutupnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "BGN Sebut 19 Ribu Sapi per Hari untuk MBG Ternyata Cuma Pengandaian"