05 May 2026

Benarkah Brokoli Anti Kanker?

Benarkah brokoli punya efek antikanker hingga 200 persen? Foto: iStock

Belakangan, brokoli kembali jadi sorotan setelah muncul klaim di media sosial yang menyebut sayuran hijau ini memiliki efek "antikanker hingga 200%". Narasi tersebut terdengar meyakinkan, apalagi brokoli memang dikenal kaya nutrisi dan sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.

Namun, benarkah ada dasar ilmiah di balik angka tersebut, atau cuma hasil tafsir yang berlebihan?

Sejumlah penelitian memang menunjukkan bahwa brokoli mengandung senyawa bioaktif seperti sulforaphane yang berpotensi membantu melindungi sel dari kerusakan. Bahkan, studi menemukan bahwa cara pengolahan tertentu dapat meningkatkan kadar senyawa tersebut hingga beberapa kali lipat.

Meski begitu, penting untuk memahami bahwa peningkatan kandungan senyawa tidak serta-merta berarti efek "antikanker" dalam angka tertentu.

Lantas, bagaimana sebenarnya posisi brokoli dalam kaitannya dengan pencegahan kanker menurut penelitian?

Klaim Brokoli "Antikanker 200%", dari Mana Asalnya?

Klaim bahwa brokoli memiliki efek "antikanker hingga 200%" banyak beredar di media sosial dan berbagai konten kesehatan populer. Angka ini sering disampaikan tanpa konteks yang jelas, sehingga terkesan seolah-olah brokoli mampu memberikan efek perlindungan atau bahkan penyembuhan kanker dalam ukuran yang pasti dan terukur. Padahal, dalam dunia ilmiah, tidak ada istilah atau parameter "persentase antikanker" seperti itu.

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang menyebut angka "200%" terkait efek brokoli terhadap kanker. Dalam dunia ilmiah, kaitan antara makanan dan kanker umumnya dijelaskan sebagai penurunan risiko atau mekanisme biologis, bukan klaim persentase tunggal.

Lalu, dari mana angka tersebut muncul? Salah satu kemungkinan adalah salah tafsir terhadap hasil penelitian laboratorium. Studi dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry oleh Wu et al. (2018), misalnya, menemukan bahwa teknik tertentu-seperti memotong dan mendiamkan brokoli sebelum dimasak-dapat meningkatkan pembentukan senyawa isothiocyanate (termasuk sulforaphane) hingga sekitar 2-3 kali lipat.

Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa:
  • peningkatan tersebut merujuk pada kadar senyawa aktif,
  • bukan peningkatan efek langsung dalam mencegah atau mengobati kanker.
Ketika angka "2-3 kali lipat" ini disederhanakan tanpa penjelasan, ia bisa dengan mudah berubah menjadi klaim "200% lebih efektif", yang kemudian disalahartikan sebagai efek antikanker. Inilah yang membuat informasi ilmiah yang sebenarnya valid menjadi misleading ketika keluar dari konteksnya.

Karena itu, meskipun brokoli memang memiliki potensi manfaat kesehatan, termasuk dalam konteks pencegahan penyakit, klaim "antikanker 200%" tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat dan perlu disikapi dengan kritis.

Kandungan Sulforaphane dalam Brokoli dan Potensinya dalam Pencegahan Kanker

Di balik klaim yang sering dibesar-besarkan, brokoli memang mengandung senyawa bioaktif yang telah banyak diteliti secara ilmiah, terutama sulforaphane. Senyawa ini terbentuk dari glukosinolat ketika brokoli dipotong atau dikunyah, dan menjadi fokus berbagai studi karena potensinya dalam mendukung pencegahan kanker.

Sejumlah publikasi ilmiah menunjukkan hasil yang cukup konsisten. Salah satunya adalah review berjudul "Sulforaphane: A Broccoli Bioactive Phytocompound in Cancer Prevention" (2021) yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah berbasis PubMed Central. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa sulforaphane dapat membantu mengaktifkan enzim detoksifikasi, mengurangi peradangan, serta berperan dalam melindungi sel dari kerusakan yang dapat memicu kanker.

Temuan serupa juga diperkuat oleh review lain berjudul "Anticancer Properties of Sulforaphane: Current Insights" (2023). Studi ini tidak hanya merangkum penelitian laboratorium, tetapi juga mencakup uji klinis awal pada manusia.

Salah satu hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi sulforaphane seperti brokoli, berkaitan dengan perubahan ekspresi gen yang terlibat dalam perkembangan kanker, termasuk pada kasus kanker prostat. Meski demikian, efek ini masih dalam tahap penelitian dan belum dapat dianggap sebagai terapi utama.

Sementara itu, publikasi terbaru dalam jurnal International Journal of Molecular Sciences (2026) menegaskan bahwa sulforaphane bekerja melalui berbagai mekanisme biologis, seperti:
  • membantu proses detoksifikasi zat karsinogen
  • berperan sebagai antioksidan
  • memengaruhi regulasi gen yang berkaitan dengan pertumbuhan sel
Selain itu, studi preklinis yang dipublikasikan di Scientific Reports juga menunjukkan bahwa sulforaphane mampu menghambat pertumbuhan tumor pada model hewan. Namun, seperti banyak penelitian tahap awal lainnya, hasil ini tidak bisa langsung disamakan dengan efek pada manusia.

Dari berbagai temuan tersebut, para peneliti umumnya sepakat bahwa sulforaphane memiliki potensi dalam pencegahan kanker (chemoprevention), namun bukan sebagai pengobatan utama.

Artinya, konsumsi brokoli tetap bermanfaat jika dimasukkan dalam pola makan sehat. Meski begitu, efeknya tidak bersifat instan dan tidak dapat dinyatakan dalam angka pasti, melainkan berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.

Cara Mengolah Brokoli agar Kandungan Aktifnya Tetap Optimal

Cara mengolah brokoli dapat memengaruhi pembentukan sulforaphane, senyawa yang banyak dikaitkan dengan manfaat kesehatan. Penelitian dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry (Wu et al., 2018) menunjukkan bahwa teknik tertentu dapat membantu meningkatkan kadar senyawa ini.

Agar manfaatnya lebih optimal, berikut cara yang bisa dilakukan:

1. Hindari langsung memasak setelah dipotong
Memasak dengan suhu tinggi dapat merusak enzim myrosinase, yang dibutuhkan untuk mengubah glukosinolat menjadi sulforaphane. Jika brokoli langsung dimasak, pembentukan senyawa ini bisa berkurang.

2. Potong lalu diamkan 5-10 menit sebelum dimasak
Memberi waktu bagi enzim myrosinase untuk bekerja membentuk sulforaphane. Dalam penelitian tersebut, cara ini dapat meningkatkan kadar isothiocyanate (termasuk sulforaphane), tepatnya sekitar 2,6 hingga 2,8 kali lipat.

3. Masak sebentar, jangan terlalu lama
Memasak terlalu lama (overcooking) dapat menurunkan kandungan nutrisi dan senyawa aktif dalam brokoli. Metode seperti mengukus atau menumis cepat dinilai lebih baik.

4. Rendam dalam air garam sebelum diolah
Langkah ini tidak berkaitan langsung dengan pembentukan sulforaphane, tetapi dapat membantu membersihkan kotoran atau serangga kecil yang sering tersembunyi di sela brokoli.

Dengan demikian, cara mengolah brokoli memang dapat memengaruhi kandungan senyawanya. Namun, manfaat tersebut tetap perlu dipahami sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan, bukan sebagai klaim efek instan atau dalam angka tertentu.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Viral Klaim Brokoli 'Antikanker 200 Persen', Ternyata dari Sini Asal Mulanya"