![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/Weerayut Chaiwanna |
Sebuah rumah sakit bersalin di wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia, mulai melakukan skrining terhadap pasien hamil untuk mengetahui kemungkinan paparan penyakit pes dan membatasi kunjungan setelah seorang pegawai institut penelitian penyakit pes setempat meninggal dunia. Laporan media independen Lyudi Baikala (People of Baikal) pada Senin menyebutkan langkah tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran akan kemungkinan penyebaran penyakit pes.
Darya Shipilova, pegawai Institut Penelitian Penyakit Pes Irkutsk berusia 28 tahun, meninggal pekan lalu setelah dirawat di rumah sakit dengan gejala pneumonia di Kota Shelekhov, yang berada tidak jauh dari Irkutsk. Kematiannya memicu kekhawatiran akan kemungkinan wabah pes, meski otoritas belum mengonfirmasi secara terbuka bahwa ia terinfeksi penyakit tersebut.
Dikutip dari The Moscow Times, blogger Ulyana Gavryunina mengatakan, petugas di Pusat Perinatal Kota Irkutsk memberinya formulir bertajuk "Daftar Periksa Dugaan Penyakit Pes" saat ia datang untuk menjalani pemeriksaan pada 5 Oktober. Kuesioner itu berisi pertanyaan mengenai gejala penyakit serta kontak dengan orang sakit atau orang yang baru datang dari luar negeri.
Gavryunina mengatakan pusat perinatal tersebut melarang masuk semua orang selain pasien hamil sejak Jumat. Saat tiba, petugas juga memeriksa suhu tubuhnya dan memintanya menunjukkan lidah.
Menurut Gavryunina, petugas menyebut informasi yang belum terkonfirmasi mengenai infeksi yang belum diketahui sebagai alasan penerapan pembatasan tersebut. Fasilitas itu juga mewajibkan penggunaan masker dan untuk sementara melarang pasangan mendampingi proses persalinan.
Sebelumnya, sejumlah laporan yang belum terverifikasi menyebut Shipilova mungkin tertular pes saat melakukan perjalanan dinas ke Republik Buryatia yang berdekatan atau setelah secara tidak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi bakteri penyebab pes di laboratorium. Namun, kedua dugaan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.
Rumah sakit di Shelekhov kemudian menjalani karantina. Sebanyak 189 orang yang pernah melakukan kontak dengan Shipilova juga ditempatkan dalam pemantauan medis, menurut laporan sebelumnya.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Senin meminta masyarakat Rusia mengabaikan rumor mengenai kemungkinan wabah pes dan mengacu pada pernyataan resmi Badan Pengawas Perlindungan Konsumen dan Kesehatan Masyarakat Rusia (Rospotrebnadzor).
Badan tersebut menyatakan situasi kesehatan masyarakat di wilayah Irkutsk tetap "stabil" setelah penyelidikan dilakukan.
Kazakhstan, Kirgizstan, dan Uzbekistan meningkatkan langkah kewaspadaan menyusul munculnya laporan tersebut. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memantau informasi terkait dugaan kasus itu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa menyatakan bahwa otoritas Rusia telah mengidentifikasi orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan Shipilova dan tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan gejala penyakit. WHO juga mengatakan telah meminta informasi lebih lanjut kepada Rusia mengenai kematian tersebut.
Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang bersirkulasi di antara mamalia kecil dan kutu yang hidup pada hewan tersebut. Menurut WHO, manusia dapat terinfeksi melalui gigitan kutu atau kontak dengan hewan maupun jaringan tubuh yang terinfeksi.
Bentuk pes yang paling umum, yaitu pes bubonik, menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa nyeri dan jarang menular antarmanusia. Sementara itu, pes pneumonik menyerang paru-paru dan dapat menular melalui percikan pernapasan saat terjadi kontak dekat.
Kedua bentuk penyakit pes tersebut dapat diobati dengan antibiotik. Namun, pengobatan harus diberikan sedini mungkin agar peluang keberhasilan penanganan lebih besar.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "RS Bersalin Rusia Perketat Pemeriksaan Bumil di Tengah Kekhawatiran Wabah Pes"
