08 October 2026

Beberapa Kebiasaan yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Hati

Foto: Ilustrasi minuman manis (Getty Images/iStockphoto/SB Arts Media)

Saat membahas kesehatan hati, alkohol biasanya menjadi perhatian utama. Namun, ternyata bukan hanya alkohol yang perlu diperhatikan.

Hati membantu memproses nutrisi, obat-obatan, dan berbagai zat yang beredar dalam darah. Menurut spesialis bedah transplantasi hati di Paras Hospital, India, dr Ankur Garg, organ ini juga bisa merasa lelah karena berbagai kebiasaan sehari-hari.

"Bekerja dengan tenang sepanjang waktu, hati mengelola ratusan tugas penting, menyeimbangkan energi, memecah obat-obatan, membersihkan darah, dan membantu pencernaan," kata dr Ankur.

Perlemakan hati juga dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Hal ini menjadi alasan mengapa kebiasaan sehari-hari penting untuk diperhatikan, terutama jika kebiasaan tersebut terus-menerus memengaruhi kadar gula darah, berat badan, dan metabolisme. Berikut beberapa kebiasaan yang bisa memengaruhi kesehatan hati.

1. Minum Minuman Manis
Berbagai minuman yang dijual bebas dapat mengandung banyak gula tambahan.

"Minuman bersoda, kopi manis, jus kemasan, dan minuman energi sarat dengan fruktosa," kata dr Ankur.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menjelaskan bahwa pengidap penyakit hati berlemak perlu membatasi makanan dan minuman yang tinggi gula sederhana, terutama fruktosa. Konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan penyakit hati berlemak terkait disfungsi metabolik atau metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD).

2. Duduk Berjam-jam Tanpa Bergerak
Duduk berjam-jam di depan meja, di dalam mobil, atau di sofa dapat mengurangi jumlah glukosa yang digunakan otot.

"Ketika otot tetap diam, otot hanya membakar sedikit gula darah. Energi berlebih itu beredar kembali ke hati Anda, yang menyimpannya sebagai lemak membandel, bahkan pada orang yang kurus secara alami," tambahnya.

Aktivitas fisik penting untuk dilakukan. CDC merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu.

3. Tidak Memperhatikan Obat Penghilang Rasa Sakit dan Suplemen
Obat penghilang rasa sakit memang dapat bermanfaat. Namun, mengonsumsinya terus-menerus atau mencampurnya dengan obat lain dapat menimbulkan risiko.

"Obat penghilang rasa sakit dan tablet sakit kepala yang dijual bebas memang bisa membantu, tapi menggunakannya sebagai penopang harian memaksa hati untuk terus-menerus memproses bahan kimia tambahan," kata dr Ankur.

"Mengandalkan teh detoks dan suplemen misterius: label alami atau herbal tidak otomatis berarti aman," tambahnya.

4. Kurang Tidur dan Makan Berat Sebelum Tidur
Menurut dr Ankur, kurang tidur dan pola tidur yang tidak teratur dapat meningkatkan hormon stres seperti kortisol, yang dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak di area perut dan hati. Ia juga mengingatkan agar tidak rutin makan berat sebelum tidur.

Memperhatikan waktu tidur dan makan bukanlah obat mujarab untuk menjaga kesehatan hati. Namun, hal tersebut menjadi bagian dari pola hidup yang lebih luas yang dapat memengaruhi berat badan, gula darah, dan kesehatan secara keseluruhan.

Alkohol Tetap Menjadi Faktor Risiko Utama bagi Kesehatan Hati

Konsumsi alkohol dalam jumlah banyak secara teratur dapat menyebabkan perlemakan hati, peradangan, fibrosis, dan sirosis. National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA) menegaskan bahwa alkohol dapat menyebabkan beberapa bentuk kerusakan hati.

Untuk itu, menurut dr Ankur, menjauhi alkohol sebisa mungkin menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan hati. Hati juga memiliki kemampuan untuk pulih dari sebagian kerusakan pada tahap awal.

"Melindunginya tidak memerlukan pembersihan detoksifikasi komersial yang agresif. Cukup dengan menghilangkan gesekan metabolisme harian yang mencegahnya melakukan tugasnya," katanya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Banyak Dilakukan Warga RI, 4 Kebiasaan yang Bisa Rusak Hati Tanpa Disadari"