![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/ferlistockphoto |
Masalah gigi masih menjadi persoalan kesehatan yang banyak dialami masyarakat Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi karies mencapai lebih dari 80 persen pada sejumlah kelompok usia.
Pada anak usia 5-9 tahun, prevalensi karies tercatat 84,8 persen. Angka tersebut mencapai 82,2 persen pada kelompok usia 25-34 tahun, 89,3 persen pada usia 35-44 tahun, dan 92,1 persen pada usia 45-54 tahun.
Dokter spesialis gigi drg Louis Zaelani mengatakan menjaga kesehatan gigi tidak cukup hanya dengan rutin menyikat gigi. Cara berkumur setelah menyikat gigi juga perlu diperhatikan agar kandungan fluoride dari pasta gigi tetap memberikan perlindungan pada gigi.
"Yang penting gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride, karena fluoride membantu melindungi gigi. Setelah menyikat gigi, sebaiknya jangan berkumur sampai terlalu bersih supaya sebagian fluoride tetap tertinggal dan dapat memberikan perlindungan pada gigi," beber drg Louis kepada detikcom Kamis (1/10/2026).
Fluoride diketahui berperan dalam membantu memperkuat permukaan gigi dan mencegah kerusakan akibat proses pembentukan karies. Karena itu, berkumur dengan air dalam jumlah banyak setelah menyikat gigi dapat membuat fluoride yang tersisa di permukaan gigi lebih cepat hilang.
Setelah menyikat gigi, masyarakat dapat meludahkan sisa pasta gigi tanpa perlu berkumur berulang kali dengan banyak air. Kebiasaan tersebut memungkinkan fluoride tetap berada di sekitar permukaan gigi lebih lama.
Karies Bukan Hanya Masalah Anak
Tingginya angka karies menunjukkan bahwa persoalan kesehatan gigi tidak berhenti ketika seseorang beranjak dewasa.
Data SKI 2023 menunjukkan prevalensi karies tetap tinggi pada kelompok usia produktif hingga lanjut usia. Kementerian Kesehatan juga mencatat kelompok usia 3-4 tahun, 5 tahun, serta usia di atas 35 tahun masih berada dalam kategori indeks DMF-T tinggi hingga sangat tinggi.
Pada anak, kebiasaan menjaga kebersihan gigi menjadi salah satu hal penting untuk mencegah karies sejak dini. Sementara pada orang dewasa, masalah gigi dapat berkaitan dengan kesehatan gusi, susunan gigi, fungsi mengunyah hingga kondisi gigi yang sudah mengalami kerusakan.
Data WHO Oral Health Country Profile Indonesia juga memperkirakan 46,9 persen anak usia 1-9 tahun mengalami karies pada gigi sulung yang belum ditangani.
Pada populasi usia 5 tahun ke atas, prevalensi karies gigi permanen yang belum ditangani diperkirakan sebesar 28,8 persen. Sementara itu, sekitar 19,6 persen populasi usia 15 tahun ke atas mengalami penyakit periodontal berat.
Menurut Louis, pemeriksaan gigi secara berkala tetap diperlukan meski tidak sedang mengalami sakit gigi. Pemeriksaan dapat membantu menemukan masalah sejak awal sehingga perawatan bisa dilakukan sebelum kerusakan berkembang lebih jauh.
"Karies yang tidak ditangani dapat berkembang dari kerusakan pada lapisan luar gigi hingga mencapai bagian dalam gigi. Kondisi ini dapat menyebabkan sakit gigi, gigi berlubang semakin dalam, hingga infeksi. Pada karies yang sudah mencapai pulpa atau bagian terdalam gigi, bakteri dapat memicu peradangan dan infeksi. Jika tidak mendapatkan penanganan, infeksi tersebut dapat berkembang menjadi abses atau kumpulan nanah di sekitar gigi," bebernya.
"Dalam kondisi yang lebih berat, infeksi gigi juga dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya dan menimbulkan pembengkakan. Karena itu, karies sebaiknya tidak dibiarkan hanya karena belum menimbulkan rasa sakit," saran dia.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Banyak Warga +62 Karies Gigi, Dokter Ingatkan Cara Kumur-kumur yang Benar"
