11 October 2026

Jangan Abaikan, Kondisi Ini Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung

Foto: Ilustrasi sakit jantung (Getty Images/Nansan Houn)

Saat membahas penyakit kardiovaskular, banyak orang mungkin langsung mengaitkannya dengan kondisi seperti detak jantung tak teratur, gagal jantung, atau penumpukan plak di arteri jantung. Namun, ada kondisi yang sering diabaikan, terutama pada wanita, yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Dikutip dari laman NYPost, plak dapat menumpuk di berbagai pembuluh darah di tubuh, termasuk arteri di kaki dan pergelangan kaki. Kondisi ini disebut peripheral artery disease (PAD) atau penyakit arteri perifer.

Penumpukan plak di kaki, area panggul, dan lengan dapat menyumbat atau mempersempit arteri, membatasi aliran darah, dan menyebabkan gejala seperti nyeri kaki, perubahan warna atau suhu kulit, serta ulkus.

Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi, di antaranya masalah kaki yang memburuk, seperti luka yang lambat sembuh, gangren, amputasi anggota tubuh meski jarang terjadi, hingga kejadian kardiovaskular yang serius.

Semakin lama kondisi tersebut dibiarkan tanpa pengobatan, semakin besar kemungkinan terjadinya kejadian kardiovaskular serius. Penyakit arteri perifer dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung enam kali lipat dan peningkatan risiko stroke dua hingga tiga kali lipat.

Sebuah studi di tahun 2018 dalam Women's Health and Aging Study menemukan bahwa 63 persen peserta dengan PAD tidak melaporkan nyeri klasik saat beraktivitas sehingga dikategorikan sebagai asimptomatik. Sementara itu, penelitian dari American Heart Association juga menunjukkan bahwa wanita dengan penyakit ini cenderung lebih jarang mengalami nyeri kaki saat berjalan. Namun, mereka menghadapi keterbatasan yang signifikan dalam mobilitas, kecepatan berjalan, dan daya tahan.

PAD juga cenderung menimbulkan gejala lebih lambat pada wanita. Rata-rata, wanita baru mengalami gejala pada usia 60-an, sementara pria mulai merasakan gejalanya sekitar satu dekade lebih awal.

Perempuan yang lebih tua mungkin lebih berisiko mengalami kondisi pada arteri tersebut karena kadar estrogen yang lebih rendah dan berkurangnya efek perlindungan hormon tersebut terhadap pembuluh darah. Kondisi lain yang umum terjadi pada usia ini, seperti radang sendi dan osteoporosis, juga dapat menimbulkan gejala yang menyerupai PAD.

Jika mengalami nyeri, mati rasa, ketidaknyamanan di kaki, atau tidak bisa bergerak secepat biasanya, pemeriksaan denyut nadi di pergelangan kaki dapat membantu dokter menilai kemungkinan adanya PAD.

Jika denyut nadi di kaki tak teraba, dokter bisa melakukan pemeriksaan sederhana yang disebut ankle-brachial index (ABI). Pemeriksaan ini membandingkan tekanan darah yang diukur di pergelangan kaki dengan tekanan darah di lengan.

Tekanan darah di pergelangan kaki yang lebih rendah dibandingkan dengan tekanan darah di lengan dapat menunjukkan aliran darah ke kaki tidak optimal dan menjadi salah satu tanda penyakit arteri perifer (PAD).

Meski gejalanya berbeda, faktor risiko PAD pada pria dan wanita umumnya serupa dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular lainnya. Faktor-faktor tersebut meliputi merokok, diabetes, usia lanjut, kolesterol tinggi, obesitas, pola makan tidak sehat, dan tekanan darah tinggi. Selain perubahan gaya hidup, pengobatan untuk PAD mencakup obat-obatan seperti statin.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kerap Diabaikan, Kondisi Ini Ternyata Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung"