13 October 2026

Narapidana Selamat dari Eksekusi Akibat Obat Suntik Mati Tak Berjalan Semestinya

Foto: Ilustrasi suntik mati Getty Images/iStockphoto

Seorang narapidana di Amerika Serikat (AS) selamat dari eksekusi mati meski telah diberikan dua dosis obat mematikan melalui infus.

Dikutip dari laman Today, wanita bernama Christa Pike ini dijadwalkan menjalani eksekusi pada 30 September 2026 atas pembunuhan yang dilakukannya lebih dari 30 tahun lalu. Meski selamat dari hukuman tersebut, dia sempat berada dalam kondisi kritis.

"Dia dalam kondisi kritis, tidak sadarkan diri, diintubasi, dan menerima bantuan pernapasan melalui ventilator," kata pengacara Christa dalam pernyataan pada 2 Oktober.

Negara Bagian Tennessee menggunakan pentobarbital dalam metode suntik mati, yang selama ini menuai kontroversi. Insiden yang dialami Pike mendorong para ahli dan organisasi untuk menyoroti perlunya peninjauan kembali terhadap metode hukuman mati tersebut.

"Sekarang Tennessee harus benar-benar berpikir dan mempertimbangkan kembali bagaimana mereka akan melaksanakan eksekusi," kata kriminolog Deborah Denno, direktur pendiri Pusat Ilmu Saraf dan Hukum di Sekolah Hukum Fordham.

dr Jonathan I. Groner, seorang pensiunan ahli bedah anak di Ohio State University College of Medicine yang meneliti metode suntik mati, mengatakan, dosis pentobarbital sebanyak 5 gram yang digunakan dalam eksekusi jauh lebih besar daripada dosis yang diperlukan untuk membuat seseorang mengalami koma medis.

"Fakta bahwa dia terbangun, di satu sisi, menunjukkan bahwa dia hanya mengonsumsi sedikit sekali zat itu. Jadi, itu cukup mengejutkan," kata Groner, dikutip dari laman Global News.

"Itu menunjukkan betapa buruknya mereka gagal dalam eksekusi tersebut," tambahnya.

Dalam dosis tinggi, obat golongan barbiturat yang sangat kuat ini seharusnya membuat seseorang kehilangan kesadaran, berhenti bernapas, hingga jantungnya berhenti berdetak.

Menurut Groner, infus intravena (IV) mungkin dipasang dengan tidak tepat. Kemungkinan lainnya, pembuluh darah Pike rapuh dan pecah sehingga obat merembes ke jaringan di sekitarnya, alih-alih mengalir ke dalam aliran darah.

Pengacara Pike mengatakan bahwa kliennya ditusuk jarum setidaknya tujuh kali di ruang eksekusi negara bagian. Mereka juga menyebut Pike memiliki kelainan darah sejak lahir yang membuat jarum sulit dimasukkan ke pembuluh darahnya.

dr Joel Zivot, profesor anestesiologi dan bedah di Atlanta yang menjadi konsultan ahli bagi tim hukum Pike, mengatakan bahwa Pike memiliki gangguan pembekuan darah yang menyebabkan tubuhnya memproduksi trombosit secara berlebihan.

Menurut pengacaranya, kondisi tersebut dapat menyebabkan pembekuan darah di tempat suntikan atau perdarahan yang dapat memengaruhi paru-parunya.

Zivot juga mengatakan bahwa lengan Pike mengalami luka bakar dan melepuh akibat upaya eksekusi yang gagal tersebut. Pike tidak sadarkan diri dan harus menggunakan ventilator selama beberapa hari.

"Dia sangat beruntung karena ada cukup (pentobarbital) untuk membuatnya tertidur lelap, tetapi mereka mampu menjaga pernapasannya tetap berjalan dan mereka dapat mulai membersihkan racunnya," kata Zivot.

Dikutip dari laman AP, pada Selasa (6/10), Pike terbangun dalam kondisi kebingungan dan tidak bisa menggerakkan lengannya. Dia juga mengalami pneumonia dan gumpalan darah di lengannya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Obat Suntik Mati Tak Berjalan Semestinya, Narapidana AS Selamat dari Eksekusi"