11 April 2026

Iron Lucky Fish, Benarkah Bisa Bantu Cegah Anemia?

Iron lucky fish. Foto: Toronto Star via Getty Images/Jesse Winter

Bayangkan sedang memasak sup, lalu masukkan sebuah "ikan" kecil ke dalam panci. Bukan ikan sungguhan, melainkan potongan besi. Di beberapa wilayah seperti Kamboja, cara ini digunakan sebagai pendekatan sederhana untuk membantu meningkatkan asupan zat besi dari makanan sehari-hari.

"Ikan besi" ini dikenal sebagai Lucky Iron Fish, sebuah inovasi yang dirancang untuk membantu mengatasi kekurangan zat besi dengan cara direbus bersama makanan atau air.

Namun, seberapa efektif metode ini dalam membantu mencegah anemia? Apakah benar bisa menjadi solusi praktis, atau justru memiliki keterbatasan tertentu?

Apa Itu Iron Lucky Fish dan Mengapa Berbentuk Ikan?

Lucky Iron Fish adalah alat berbahan besi yang digunakan saat memasak untuk membantu meningkatkan kandungan zat besi dalam makanan atau air. Alat ini umumnya dibuat dari besi murni atau besi dengan kemurnian tinggi yang aman untuk kontak dengan makanan (food-grade), serupa dengan bahan pada peralatan masak berbahan besi yang telah lama digunakan.

Cara penggunaannya cukup sederhana. "Ikan" kecil ini dimasukkan ke dalam air, sup, atau masakan berkuah saat proses memasak, sehingga sebagian zat besi dari logam tersebut dapat larut dan ikut terkonsumsi.

Konsep ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa memasak menggunakan peralatan berbahan besi, seperti panci atau wajan besi, dapat meningkatkan kadar zat besi dalam makanan, terutama pada hidangan berkuah atau yang bersifat asam.

Hal ini dibahas dalam berbagai studi, salah satunya ulasan ilmiah di Journal of Food Science, yang menjelaskan bahwa zat besi dari permukaan logam dapat larut ke dalam makanan selama proses memasak. Prinsip inilah yang kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang lebih praktis dan terstandarisasi.

Inovasi ini pertama kali dikembangkan dan diperkenalkan di Kamboja sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat untuk mengatasi tingginya kasus anemia, khususnya anemia defisiensi besi. Pendekatan ini lahir dari penelitian lapangan yang mencari solusi sederhana, terjangkau, dan mudah diterapkan di masyarakat.

Menariknya, bentuk alat ini tidak dibuat secara acak. Di Kamboja, ikan dianggap sebagai simbol keberuntungan dan kesehatan, sehingga desain ini membantu meningkatkan penerimaan masyarakat dibandingkan potongan besi biasa. Pendekatan ini menunjukkan bahwa solusi kesehatan sederhana yang memadukan sains dan budaya lokal dapat lebih mudah diterapkan dan berpotensi memberikan manfaat nyata.

Bagaimana Cara Kerjanya: Benarkah Bisa Menambah Zat Besi?

Prinsip kerja Lucky Iron Fish sebenarnya cukup sederhana. Saat dimasukkan ke dalam air atau masakan berkuah, sebagian kecil zat besi dari permukaan logam akan larut ke dalam cairan, terutama selama proses pemanasan.

Proses ini dapat berlangsung lebih optimal jika makanan yang dimasak mengandung cairan dan sedikit asam, misalnya dari perasan jeruk nipis atau tomat. Keasaman membantu melepaskan zat besi dari logam, sehingga jumlah zat besi yang larut ke dalam makanan bisa meningkat.

Hal ini juga dijelaskan dalam berbagai publikasi ilmiah yang tersedia melalui National Institutes of Health (NIH), yang menunjukkan bahwa kondisi memasak, seperti suhu, waktu, dan tingkat keasaman, dapat memengaruhi jumlah zat besi yang berpindah ke makanan.

Zat besi yang dilepaskan dari alat ini termasuk dalam bentuk non-heme, yaitu jenis zat besi yang juga banyak ditemukan pada sumber nabati. Meski penyerapannya di dalam tubuh tidak seefisien zat besi heme (dari daging), penyerapan zat besi non-heme dapat ditingkatkan dengan kehadiran vitamin C. Karena itu, penggunaan bahan asam tidak hanya membantu proses pelepasan zat besi saat memasak, tetapi juga berperan dalam meningkatkan penyerapannya di dalam tubuh.

Secara ilmiah, pelepasan zat besi dari logam selama proses memasak telah lama dibahas dalam studi tentang peralatan masak berbahan besi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa faktor seperti tingkat keasaman (pH), suhu, dan lama memasak dapat memengaruhi jumlah zat besi yang larut ke dalam makanan.

Makanan yang lebih asam, misalnya dengan pH di bawah 4,5 seperti tomat atau air jeruk, diketahui dapat meningkatkan pelepasan zat besi secara signifikan dibandingkan kondisi netral. Selain itu, waktu memasak juga berperan: semakin lama proses pemanasan berlangsung, semakin banyak zat besi yang dapat berpindah ke makanan.

Beberapa studi menunjukkan bahwa dalam durasi sekitar 10 menit pelepasan zat besi sudah mulai terjadi, dan dapat meningkat lebih jauh dengan waktu memasak yang lebih lama, sebagaimana dibahas dalam publikasi ilmiah di Journal of Food Science dan database National Institutes of Health (NIH).

Sementara itu, pada penggunaan Lucky Iron Fish, penelitian lebih banyak menilai dampaknya dalam kondisi penggunaan sehari-hari. Dikutip dari jurnal Tropical Medicine & Surgery, alat ini digunakan dengan cara direbus dalam air selama sekitar 10 menit, biasanya dengan tambahan sedikit bahan asam seperti lemon.

Dengan kata lain, alat ini tidak "menambahkan" zat besi secara instan dalam jumlah besar, melainkan membantu meningkatkan asupan zat besi secara bertahap melalui makanan sehari-hari. Efektivitasnya pun sangat bergantung pada cara penggunaan, jenis makanan, serta pola makan secara keseluruhan.

Efektivitasnya Menurut Penelitian: Seberapa Besar Dampaknya?

Setelah memahami cara kerjanya, pertanyaan berikutnya adalah: apakah metode ini benar-benar efektif dalam membantu mengatasi kekurangan zat besi?

Dikutip dari jurnal Tropical Medicine & Surgery, penggunaan Lucky Iron Fish secara rutin selama 12 bulan menunjukkan hasil yang cukup jelas. Jumlah orang yang mengalami anemia di kelompok pengguna turun dari sekitar 56,7% menjadi 11,0%. Selain itu, kadar hemoglobin, yaitu protein dalam darah yang berfungsi membawa oksigen, juga meningkat sekitar 11,8 g/L (sekitar 1,2 g/dL) dibandingkan kelompok yang tidak menggunakan alat ini.

Tidak hanya itu, cadangan zat besi dalam tubuh, yang diukur melalui kadar ferritin, juga ikut meningkat. Ini menunjukkan bahwa zat besi yang dilepaskan selama proses memasak tidak hanya masuk ke dalam makanan, tetapi juga benar-benar diserap dan disimpan oleh tubuh.

Meski begitu, hasil ini tetap perlu dilihat secara menyeluruh. Manfaat Lucky Iron Fish sangat bergantung pada seberapa rutin alat ini digunakan serta pola makan sehari-hari. Artinya, alat ini bisa membantu menambah asupan zat besi, tetapi bukan satu-satunya solusi, terutama untuk kondisi anemia yang lebih berat atau membutuhkan penanganan medis.

Siapa yang Cocok Menggunakan dan Seberapa Aman?

Lucky Iron Fish pada dasarnya ditujukan untuk membantu orang yang berisiko kekurangan zat besi, terutama mereka yang sulit mendapatkan asupan zat besi dari makanan sehari-hari. Misalnya, kelompok dengan pola makan rendah sumber zat besi atau yang tinggal di daerah dengan akses terbatas terhadap suplemen.

Alat ini relatif aman digunakan selama mengikuti petunjuk pemakaian. Dalam penelitian yang sama, tidak dilaporkan adanya efek samping yang berarti dari penggunaan iron fish dalam jangka waktu 12 bulan. Hal ini karena zat besi dilepaskan secara perlahan selama proses memasak, sehingga tidak langsung masuk dalam jumlah besar seperti pada konsumsi suplemen.

Namun, tetap ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Penggunaan harus disertai dengan cara perawatan yang benar, seperti membersihkan dan mengeringkan alat setelah dipakai untuk mencegah karat berlebih.

Selain itu, alat ini tidak disarankan untuk digunakan sebagai satu-satunya penanganan pada kondisi Anemia Defisiensi Besi yang sudah berat, karena kondisi tersebut biasanya memerlukan penanganan medis lebih lanjut.

Dengan kata lain, Lucky Iron Fish bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu menambah asupan zat besi dari makanan sehari-hari. Namun, tetap penting untuk menjaga pola makan seimbang dan, bila perlu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk penanganan yang lebih tepat.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Iron Lucky Fish: Ikan Besi untuk Bantu Cegah Anemia, Benarkah Efektif?"