25 April 2026

Ini Kata BGN Terkait 19 Ribu Sapi Dipotong Tiap Hari untuk MBG

Foto: Gilang Faturahman/detikfoto

Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana sempat memicu beragam reaksi publik termasuk pakar. Kala itu ia menyebut 19 ribu ekor sapi dipotong setiap hari untuk kebutuhan makan bergizi gratis.

Komentar yang muncul termasuk pertanyaan mengapa daging sapi malah jarang ditemukan dalam menu MBG. Hal ini yang juga disoroti Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof Panjono. Ia menilai angka tersebut perlu dikaji ulang dan dibuka pendistribusiannya secara transparan ke publik.

"Kalau benar 19 ribu ekor sapi dipotong dalam sehari, dan 4 kali dalam sebulan, seharusnya daging sapi rutin muncul dalam menu. Tapi dalam praktiknya, menu MBG lebih banyak ayam, telur, dan ikan. Jadi, rasanya perlu dibuktikan kebenarannya. Belum lagi terkait ketersediaan sapinya," ujarnya beberapa waktu lalu.

Dalam keterangan terbaru Dadan, ia mengklarifikasi kebutuhan 19 ribu ekor yang dimaksud. Ia menyebut angka itu hanya simulasi atau pengandaian perhitungan, memang tidak menggambarkan kondisi riil harian di lapangan.

Adapun 19 ribu ekor sapi merujuk pada kondisi bila seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak menu berbahan daging sapi.

"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," jelasnya usai meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi, Selasa (21/4).

Menurutnya, dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu SPPG bisa mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram, atau setara satu ekor sapi untuk kebutuhan dagingnya saja.

"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja," kata Dadan.

Dadan menegaskan BGN tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Hal ini dilakukan untuk menghindari lonjakan kebutuhan bahan pangan yang dapat berdampak pada harga di pasar.

Berkaca pada pengalaman perayaan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto, 17 Oktober lalu. Saat itu, menu yang disajikan adalah nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta orang.

"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000," ungkapnya.

BGN juga disebutnya meminta penyusunan menu MBG yang disesuaikan dengan sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah.

"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," tutupnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "19 Ribu Sapi Dipotong Tiap Hari untuk MBG, Kok Menunya Jarang Daging? BGN Bilang Gini"