Hagia Sophia

29 March 2026

Terima Donor Ginjal dari Sahabatnya, Pria Ini Mendapatkan Kesempatan Kedua untuk Hidup

Foto ilustrasi: thinkstock

Seorang pria di Penang, Malaysia, berhasil mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup setelah menerima donor ginjal dari sahabatnya. Ini dialami pria bernama Lau Jay Lim dan Isaac Ho.

Lau merupakan pria berusia 35 tahun yang bekerja sebagai programmer dan musisi didiagnosis penyakit ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD). Kondisi itu mengharuskannya rutin melakukan cuci darah atau dialisis jangka panjang.

Tak tega melihat sahabatnya, Isaac rela mendonorkan ginjalnya untuk Lau. Ini merupakan tindakan transplantasi ginjal pertama yang dilakukan di Penang.

Saat ini, keduanya dilaporkan dalam kondisi pemulihan yang baik. Lau masih banyak beristirahat di rumah sambil menjalani pemantauan ketat, serta terapi obat imunosupresif harian.

"Ketika saya memberi tahu Isaac tentang hal itu, dia langsung menawarkan untuk mendonorkan ginjalnya," beber Lau, dikutip dari Free Malaysia Today.

Isaac yang juga berusia 35 tahun mengaku hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk mengambil keputusan tersebut.

"Saya memikirkannya selama satu hari, dan keesokan harinya saya bertanya 'bisakah saya memberikan ginjal saya kepada Anda?'," sambung Isaac.

Soal Kondisi Lau

Lau mengungkapkan penyakitnya datang tanpa gejala yang jelas. Ia juga mengaku tidak merasakan apa pun sampai akhirnya terlambat untuk menyadarinya.

Konsultan nefrologi Dr Vijaya Ramasamy menyebut kondisi Lau tidak sesuai profil umum pasien gagal ginjal, yang biasanya lebih tua atau memiliki riwayat diabetes maupun hipertensi.

Dalam kasus ini, dokter menduga penyakit autoimun sebagai penyebab, meski tidak dapat dipastikan. Sebab, kondisi ginjal pasien sudah menyusut saat pertama kali diperiksa.

"Ketika pertama kali ia datang ke klinik saya, kulitnya pucat, lemah, tekanan darahnya sangat tinggi, hemoglobinnya rendah, dan kondisinya buruk," kenang Dr Vijaya.

Lau kemudian harus menjalani dialisis yang melelahkan dan mengharuskannya bolak-balik ke rumah sakit. Tekanan darahnya pun tetap sulit dikendalikan, meski sudah menjalani terapi tersebut.

Ia sempat mempertimbangkan transplantasi sejak awal. Tetapi, terkendala karena tidak ada anggota keluarga yang cocok menjadi donor, sementara tunangannya memiliki golongan darah berbeda.

Harapan muncul setelah ia menemukan bahwa donor non-kerabat bisa dilakukan melalui prosedur ketat. Proses tersebut mengharuskan keduanya menjalani serangkaian pemeriksaan medis, psikologis, hingga etika, serta evaluasi oleh komite independen untuk memastikan tidak ada paksaan atau imbalan finansial.

Setelah menunggu sekitar tiga bulan, persetujuan akhirnya diberikan oleh Direktur Jenderal Kesehatan Mahathar Abd Wahab.

Konsultan urologi sekaligus ahli bedah transplantasi Dr Sritharan Subramaniam menjelaskan operasi dilakukan dalam dua tahap, yakni pengambilan ginjal donor melalui prosedur laparoskopi dan kemudian ditransplantasikan ke tubuh penerima.

"Kami melakukan operasi secara berdampingan untuk mengurangi durasi ginjal tanpa suplai darah. Prosedur donor dilakukan secara laparoskopi, yang berarti lebih sedikit rasa sakit, lebih sedikit kehilangan darah, pemulihan lebih cepat, dan bekas luka minimal," jelasnya.

Operasi donor berlangsung sekitar tiga jam, sementara transplantasi memakan waktu tiga hingga empat jam. Isaac bahkan sudah diperbolehkan pulang setelah tiga hari.

Hasilnya pun sesuai dengan harapan. Kadar kreatinin Lau turun drastis dari 1.500-2.000 sebelum operasi menjadi 76 setelah transplantasi, yang termasuk normal.

"Untuk seseorang seusianya, transplantasi menawarkan peluang terbaik untuk kembali ke kehidupan yang hampir normal. Dialisis membuat orang tetap hidup, tetapi itu bukan pengganti alami untuk fungsi ginjal," pungkas Dr Vijaya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Pria Malaysia Donorkan Ginjalnya untuk Sahabat yang Sakit Kronis"