![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/kieferpix |
Di tengah citra sebagai generasi paling terbuka, laki-laki Gen Z dilaporkan menunjukkan kecenderungan pandangan lebih konservatif soal relasi dan peran gender. Temuan ini terungkap dalam survei global terbaru yang melibatkan puluhan ribu responden.
Survei yang dilakukan Ipsos dan Global Institute for Women's Leadership di Kings College London Inggris terhadap 23.000 responden di 29 negara menemukan hampir sepertiga laki-laki Gen Z percaya istri seharusnya taat kepada suami. Bahkan, 33 persen dari mereka menilai suami harus memiliki keputusan akhir dalam hal-hal penting rumah tangga.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan generasi baby boomers, saat hanya 13 persen laki-laki yang memiliki pandangan serupa. Di kalangan perempuan, hanya 18 persen Gen Z dan 6 persen baby boomers yang setuju dengan pernyataan tersebut.
Lebih Tradisional dari Generasi Tua
Hasil riset menunjukkan laki-laki Gen Z dua kali lebih mungkin memiliki pandangan tradisional dibandingkan baby boomers. Fenomena ini cukup kontras dengan anggapan bahwa generasi muda cenderung lebih progresif.
Secara global, dukungan terhadap pandangan tersebut juga bervariasi. Indonesia (66 persen) dan Malaysia (60 persen) menjadi negara dengan tingkat persetujuan tertinggi, dibandingkan Amerika Serikat (23 persen) dan Inggris (13 persen).
Tak hanya soal kepemimpinan dalam rumah tangga, sejumlah pandangan lain juga menunjukkan kecenderungan serupa:
- 24% laki-laki Gen Z menilai perempuan tidak seharusnya terlalu mandiri
- 21% beranggapan "perempuan sejati" tidak boleh menginisiasi hubungan seksual
- 59% merasa laki-laki saat ini dituntut terlalu banyak untuk mendukung kesetaraan
Meski begitu, ada kontradiksi menarik. Sebanyak 41% laki-laki Gen Z justru menganggap perempuan dengan karier sukses lebih menarik.
Faktor Tekanan Sosial dan Ekonomi
Peneliti menilai fenomena ini dipengaruhi oleh keresahan laki-laki muda terhadap perubahan sosial. Ada kekhawatiran kehilangan posisi dalam struktur sosial yang semakin setara.
Selain itu, faktor ekonomi juga berperan. Generasi muda dinilai tidak lagi memiliki peluang yang sama seperti generasi sebelumnya untuk memenuhi peran tradisional sebagai pencari nafkah.
Akibatnya, sebagian laki-laki Gen Z cenderung kembali pada definisi maskulinitas yang lebih sempit.
Bukan Hanya Membatasi Perempuan
Temuan ini juga menunjukkan laki-laki Gen Z tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga diri mereka sendiri.
- 30% merasa laki-laki tidak perlu mengatakan "aku cinta kamu" ke teman
- 21% menganggap pria yang aktif mengasuh anak kurang maskulin
Di sisi lain, masyarakat masih memiliki ekspektasi kuat terhadap perempuan dalam urusan domestik. Meski hanya sebagian kecil yang setuju secara pribadi, banyak yang merasa perempuan tetap "diharapkan" memikul tanggung jawab utama di rumah.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Riset: Laki-laki Gen Z Lebih 'Kolot' dari Boomers, Ngasuh Anak Disebut Tak Maskulin"
