Hagia Sophia

28 March 2026

Krisis Bahan Bakar Bagai Kembali ke Era COVID, Termasuk WFH

Foto: REUTERS/Khanh Vu

Krisis bahan bakar yang melanda Asia akibat konflik di Timur Tengah mendorong sejumlah negara mempertimbangkan kembali langkah-langkah yang pernah digunakan saat pandemi COVID-19. Fokus utamanya menekan konsumsi energi, termasuk melalui perubahan pola kerja dan aktivitas masyarakat.

Negara-negara di kawasan disebut tengah mengkaji opsi seperti bekerja dari rumah. Meski belum ada kebijakan resmi yang diterapkan, wacana tersebut mulai menguat.

"Saya pikir itu ide yang bagus," kata Menteri Energi Korea Selatan, Kim Sung-whan, menanggapi rekomendasi kerja dari rumah, dikutip dari CNA.

Rekomendasi ini datang dari International Energy Agency (IEA), yang juga mendorong pengurangan perjalanan udara sebagai langkah untuk menekan permintaan bahan bakar. IEA bahkan telah menyepakati pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk membantu meredakan krisis.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menegaskan bahwa kebijakan serupa pernah diterapkan sebelumnya dan terbukti membantu.

"Ada contoh nyata, seperti setelah invasi Rusia ke Ukraina, negara-negara Eropa menerapkan langkah ini... dan itu sangat membantu mereka melewati masa sulit tanpa energi Rusia, sambil tetap menjaga aktivitas berjalan."

Sejumlah negara di Asia mulai mengambil langkah konkret. Korea Selatan meluncurkan kampanye publik untuk menghemat energi, seperti mengurangi durasi mandi, mengisi daya perangkat di siang hari, dan mengatur penggunaan peralatan rumah tangga.

Di kawasan lain, Filipina mempersingkat hari kerja di beberapa kantor pemerintah. Presiden Ferdinand Marcos bahkan menetapkan status darurat energi nasional, menyebut konflik tersebut sebagai "ancaman langsung" terhadap pasokan energi negara.

Pakistan menutup sekolah selama dua pekan dan mendorong kerja dari rumah bagi pegawai kantor. Sementara itu, Sri Lanka menetapkan hari libur tambahan setiap pekan untuk menghemat bahan bakar.

Singapura juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk menggunakan peralatan hemat energi serta menyesuaikan penggunaan pendingin ruangan. Di Thailand, pemerintah meminta aparatur negara membatasi perjalanan luar negeri, mengatur suhu AC di atas 25 derajat Celsius, serta mempertimbangkan kerja dari rumah.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa banyak negara mulai kembali mengandalkan pendekatan yang pernah digunakan saat pandemi, sebagai respons terhadap tekanan krisis energi yang semakin meningkat.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Saat Negara Asia Ramai-ramai Bak Kembali ke Era COVID, Termasuk WFH Lagi"