Hagia Sophia

28 March 2026

Pamer Cuan Berakhir Dapat Teguran dan Dapur MBG Disuspend

Aksi Hendrik Irawan yang viral di media sosial jadi sorotan publik. Foto: Media Sosial

Seorang mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG) asal Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Hendrik Irawan, menjadi sorotan publik usai video dirinya berjoget di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) viral di media sosial.

Video tersebut diunggah melalui akun TikTok miliknya pada 15 Maret 2026 dan telah ditonton lebih dari 1 juta kali. Namun, kolom komentar itu dinonaktifkan pemiliknya. Dalam video itu, Hendrik tampak berjoget di dalam ruangan dapur MBG yang juga memperlihatkan aktivitas pekerja lain.

Aksi tersebut menuai perhatian karena dilakukan di area dapur, bahkan Hendrik terlihat tidak mengenakan alat pelindung diri (APD), sementara petugas lain menggunakan perlengkapan lengkap.

Pernyataan Cuan Rp 6 Juta Picu Polemik

Selain aksi jogetnya, pernyataan Hendrik terkait penghasilan dari program MBG turut menjadi sorotan. Ia menyebut memperoleh hingga Rp 6 juta per hari, yang kemudian memicu berbagai spekulasi di masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Hendrik memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa uang tersebut bukan berasal dari jatah makanan anak-anak, melainkan insentif dari pemerintah.

"Jadi hari ini saya menjelaskan insentif Rp 6 juta yang saya dapatkan itu dari mana. Jangan sampai netizen blunder. Jadi itu insentif bukan diambil dari jatah anak-anak, itu dari insentif yang Bapak Presiden (Prabowo Subianto) berikan," kata Hendrik dalam unggahannya seperti dikutip dari detikJabar, Rabu (25/3/2026).

Ia juga menjelaskan bahwa nominal tersebut tidak diterima setiap hari dalam satu bulan penuh.

"Bukan Rp 6 juta dikali 30 hari, tapi dikalikan 24 hari," katanya.

Bangun Dapur Rp 3,5 Miliar, Klaim Belum Balik Modal

Hendrik mengungkapkan bahwa dirinya membangun dapur SPPG di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat secara mandiri dengan modal yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp 3,5 miliar.

"Kami membangun dapur ini pakai uang sendiri. Saya membangun SPPG ini tidak memakai uang pemerintah. Nah, dari pemerintah berkolaborasi dengan mitra, uang itu hanya pengganti selama program berjalan. Bukan cuma-cuma, tapi saya mengeluarkan modal Rp 3,5 M untuk ikut program bapak Prabowo ini," katanya.

Ia menegaskan dana dari pemerintah bukanlah bantuan gratis, melainkan bentuk penggantian selama program berjalan.

"Jadi dari Pak Presiden Prabowo memberikan apresiasi, bahwa saya membangun dapur yang bagus," ungkapnya.

Meski demikian, Hendrik mengaku hingga saat ini belum balik modal, meskipun disebut memperoleh insentif hingga Rp 6 juta per hari.

Minta Maaf Usai Dihujat Netizen

Setelah video tersebut viral dan menuai kritik, Hendrik akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada publik.

"Saya Hendrik Irawan memohon maaf pada netizen, saya tidak masalah dihujat setiap hari, dan saya tidak ada tujuan melecehkan program Bapak Presiden Prabowo Subianto," kata Hendrik dalam unggahannya.

Ia juga menyayangkan dirinya menjadi sasaran utama kritik, padahal menurutnya skema insentif tersebut berlaku untuk semua dapur MBG.

"Semua SPPG dapat, jadi bukan saya saja yang dapat. Tapi kenapa netizen menyerang saya saja. Saya enggak masalah sebetulnya, saya meminta maaf atas huru-hara di media sosial karena ulah saya. Bilamana ada tutur kata saya yang menyakiti netizen, saya memohon maaf," katanya.

BGN Beri Teguran Keras, Soroti Pelanggaran di Dapur

Viralnya video tersebut mendapat perhatian dari Badan Gizi Nasional (BGN). Merespons hal ini, Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menyatakan pihaknya telah mengambil tindakan tegas.

"Kami lagi tugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan untuk bertemu," kata Nanik kepada wartawan, Selasa (24/3/2026).

Ia juga menyebut Hendrik telah mendapat teguran keras dari pihak pengawasan. BGN menyayangkan tindakan tersebut, terutama karena dilakukan di lingkungan dapur tanpa memperhatikan standar keamanan.

"Mengapa harus overacting seperti itu, apalagi ada konten-konten yang dia buat di dalam dapur tanpa APD. Tentu kami akan memantau dapurnya," ujarnya.

Dapur Di-suspend karena Tak Sesuai Standar

Setelah dilakukan pemeriksaan, dapur SPPG milik Hendrik akhirnya dibekukan sementara (suspend). BGN menemukan beberapa pelanggaran terhadap petunjuk teknis, di antaranya:
  • Tata letak dapur yang tidak sesuai standar
  • Sistem pengolahan limbah (IPAL) yang tidak memenuhi ketentuan
"Kebetulan setelah dicek dapurnya ternyata layout-nya salah dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)-nya tidak benar, jadi kita suspend," kata Nanik.

BGN juga menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar bisnis, melainkan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi anak.

Klaim 150 Relawan Terdampak Penutupan Dapur

Menurut Hendrik, keputusan ini berdampak pada sekitar 150 relawan yang selama ini terlibat dalam operasional SPPG, mulai dari memasak, pengemasan, distribusi, hingga pencucian ompreng MBG.

Relawan tersebut mencakup berbagai tugas, mulai dari memasak, pengemasan, distribusi, hingga pencucian peralatan makan.

"Dengan keputusan BGN, ada sekitar 150 relawan yang tidak akan bekerja. Jadi mungkin inilah dampaknya mungkin saya terlalu frontal," ujar Hendrik.

Hendrik mengaku prihatin terhadap nasib para relawan yang sebelumnya telah bekerja dengan penuh semangat dalam program tersebut.

BGN Ingatkan Mitra Tak Sembarangan Buat Konten

Sementara itu, BGN juga mengingatkan seluruh mitra program MBG agar tidak membuat konten yang tidak sesuai dengan etika dan standar operasional, terlebih di area dapur.

Nanik menegaskan bahwa dapur MBG harus mengikuti aturan ketat, termasuk penggunaan APD dan tata kelola yang sesuai.

Ia berharap kejadian ini menjadi pembelajaran bagi mitra lainnya agar tidak melakukan hal serupa di kemudian hari.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Fakta-fakta Joget Viral di Dapur MBG, Pamer Cuan Berujung Teguran-Dapur Disuspend"