![]() |
| Foto: Getty Images/Daniel Carde |
Situasi kemanusiaan di Lebanon mencapai titik nadir setelah gelombang serangan udara Israel menghantam wilayah-wilayah padat penduduk, termasuk ibu kota Beirut. Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Lebanon, Dr. Abdinasir Abubakar, menggambarkan hari tersebut sebagai salah satu periode paling mematikan dalam eskalasi kekerasan saat ini.
Hanya dalam waktu 10 menit, ledakan demi ledakan mengguncang banyak lokasi di tengah hari kerja tanpa peringatan bagi warga sipil. Dr. Abubakar menyaksikan sendiri kengerian tersebut dari kantornya di Beirut.
"Saya bisa melihat dari jendela saya, ada 10 serangan berbeda di depan mata, dan gedung-gedung mulai runtuh," ujarnya dikutip dari laman WHO, Jumat (10/4/2026).
Berdasarkan penilaian sementara, serangan masif ini mengakibatkan lebih dari 200 kematian dan lebih dari 1.000 orang luka-luka. Mirisnya, perempuan dan anak-anak termasuk dalam daftar korban tersebut. Selain itu, situasi di lapangan semakin tragis karena banyak korban dilaporkan masih terjebak di bawah reruntuhan gedung yang hancur.
Kondisi di rumah sakit pun kian memilukan. Tenaga medis mulai menerima banyak jenazah yang tidak teridentifikasi serta potongan tubuh yang ditemukan dari lokasi ledakan. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya daya ledak rudal yang menghantam kawasan pemukiman warga tersebut.
Sistem Kesehatan di Ambang Kehancuran
Sistem kesehatan Lebanon kini didorong hingga ke batas maksimal. Unit Gawat Darurat dan layanan trauma kewalahan menangani jumlah pasien yang membludak, sementara stok pasokan medis kritis mulai habis. Situasi diperparah dengan banyaknya tenaga medis yang turut menjadi korban sejak eskalasi dimulai dengan lebih dari 50 nakes tewas dan 150 nakes luka-luka.
"Saat petugas kesehatan dan penanggap pertama terbunuh, hasilnya adalah hilangnya layanan ambulans untuk menyelamatkan nyawa," beber Dr Abubakar.
WHO bersama kementerian kesehatan setempat terus bekerja keras menyediakan pasokan medis, namun stok yang tersedia telah terkuras habis hanya dalam waktu singkat akibat intensitas serangan yang luar biasa dalam 24 jam terakhir. Tantangan logistik, termasuk terbatasnya jalur transportasi ke dalam negeri, membuat pengiriman bantuan tambahan semakin sulit dilakukan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kejinya Israel Rudal Lebanon Bikin Rumah Sakit Kolaps, Ratusan Nyawa Melayang"
