Hagia Sophia

27 February 2023

Update COVID-19: 27 Februari 2023 Kasus COVID-19 Bertambah 152 dan 3 Meninggal

istimewa


Indonesia mencatat 152 kasus baru COVID-19 hari ini, Senin (27/2/2023). Seiring itu terdapat 270 kasus sembuh dan 3 pasien COVID-19 meninggal dunia.

Hingga hari ini, Indonesia telah mencatat total 6.735.780 kasus COVID-19 terkonfirmasi. Sedangkan kasus aktif COVID-19 kini ada sebanyak 3.412.

Dampak Resesi Seks di Jepang: Jumlah Perjaka Terus Meningkat

Foto: Penampakan Tokyo, Jepang (Rolando Fransiscus Sihombing/detikcom)

Populasi di Jepang terus menurun, seiring angka kelahiran yang rendah dan orang makin enggan menikah. Bahkan, resesi seks ditengarai makin merajalela, di mana banyak orang jomblo di sana. Malah dalam pernikahan pun, kadang tidak ada hubungan intim.

Seorang warga Jepang bernama Mariko mencemaskan kehidupan seks temannya. "Dia ingin punya bayi, tapi dia dan suami tak pernah berhubungan. Suaminya suka video game, dia tak tertarik pada seks," katanya seperti dikutip detikINET dari South China Morning Post, Selasa (21/2/2023).

Nokia Perkenalkan Logo Barunya di Mobile World Congress 2023

Logo baru Nokia.  Foto: NOKIA/Handout via REUTERS

Nokia memberikan kejutan besar di perhelatan Mobile World Congress (MWC) 2023. Perusahaan asal Finlandia ini mengubah logo demi identitas baru perusahaan.

Ini pertama kalinya Nokia melakukan perubahan identitas setelah 60 tahun. Perusahaan ingin berfokus pada pertumbuhan yang agresif.

Cara Lihat Password Gmail Melalui HP atau Laptop

Cara Melihat Password Gmail Sendiri di HP Android dan Laptop. Foto: Wired

Fitur password sangat penting karena merupakan salah satu cara agar akun kita tidak mudah dimasuki orang lain. Namun, seringkali orang lupa password-nya sendiri karena kombinasi yang rumit. Banyak orang mencari tahu cara melihat password Gmail sendiri.

Ketika pengguna pertama kali membuat password Gmail, sistem dari Google akan menganjurkan pengguna untuk mengkombinasikan huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol unik.

AS Masih Percaya Kalau Asal COVID-19 dari China

Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal

Beberapa waktu lalu, beredar kabar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berhenti melakukan investigasi terkait asal-usul Corona. Setelah hal kabar miring tersebut diluruskan oleh WHO, kini Departemen Energi di Amerika Serikat ikut menyampaikan dugaannya bahwa virus Corona berasal dari kebocoran laboratorium China.

The Wall Street Journal melaporkan, mengacu pada laporan rahasia oleh kantor Direktur Intelijen Nasional Avril Haines, sebelumnya lembaga tersebut sempat ragu-ragu perihal awal kemunculan virus Corona. Dikutip dari Journal dan The New York Times, orang-orang yang membaca laporan rahasia tersebut menilai, departemen sebenarnya tidak begitu percaya diri perihal adanya berbagai teori asal-usul COVID-19 dari sejumlah lembaga dan pandemi yang melanda dunia pada awal 2020.

Korea Mulai Krisis Populasi, Bagi Warga Menikah Tidaklah Penting

Korea dibikin pusing krisis populasi, wanita mulai menganggap pernikahan tidak penting. (Foto ilustrasi: Chris Jung/NurPhoto/Getty Images)

Sebuah survei di Korea Selatan yang dilakukan baru-baru ini menggambarkan 'anjloknya' angka kesuburan di sana. Dari survei, hanya ada empat persen wanita berusia 20-an hingga 30-an yang masih ingin menikah dan memiliki anak.

Dikutip dari Korea Times, survei tersebut dilakukan oleh seorang profesor kesejahteraan sosial di Seoul National University, Park Jeong-min, dan dipublikasi di Korean Journal of Social Welfare Studies. Survei ini melibatkan 281 pria dan wanita lajang berusia antara 20 dan 40 tentang pemikiran mereka tentang pernikahan dan persalinan.

Kemenkes Waspadai Tempat Bisa Berpotensi Jadi Tempat Penyebaran Flu Burung

Ilustrasi virus flu burung. (Foto: Thinkstock)

Kemunculan kasus flu burung pada manusia di Kamboja disebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkhawatirkan, dunia ikut waswas terkait potensi penyebarannya termasuk Indonesia. Meski begitu, belakangan Kamboja memastikan gadis 11 tahun yang meninggal, bukan terpapar flu burung clade baru.

"Ya, ini adalah jenis flu burung yang lebih tua yang telah beredar di sekitar wilayah ini selama beberapa tahun dan meskipun telah menyebabkan infeksi pada manusia di masa lalu, belum terlihat menyebabkan penularan dari manusia ke manusia. Namun, itu tidak berarti bahwa ancamannya berkurang," kata Erik Karlsson, Direktu Pusat Influenza Nasional Kamboja dan penjabat kepala virologi di Institut Pasteur du Cambodge, yang melakukan sequence virus tersebut.