![]() |
| Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/AndreyPopov) |
Bagi sebagian orang, tempat tidur adalah zona nyaman untuk melepas penat. Namun bagi Melissa Austin (28), memejamkan mata justru menjadi awal dari teror yang nyata. Ia sering terbangun dalam kondisi tubuh terkunci, tak mampu bergerak, sementara bayangan hitam besar tampak berdiri di ujung tempat tidurnya.
"Bayangan itu mulai memanjat ke kasur, menindih saya. Saya mencoba berteriak, tapi suara tidak keluar. Saya benar-benar bisa merasakan napas sosok itu di wajah saya," kenang Melissa kepada Daily Mail.
Pengalaman Melissa bukanlah hal mistis, melainkan gangguan tidur yang secara medis dikenal sebagai sleep paralysis atau di Indonesia populer dengan sebutan ketindihan. Fenomena ini ternyata dialami oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Data terbaru bahkan menunjukkan lonjakan minat pencarian mengenai "setan ketindihan" (#SleepParalysisDemon) di media sosial yang mencapai jutaan unggahan.
Mengapa Tubuh Terasa Lumpuh dan Sesak?
Para ilmuwan menjelaskan bahwa ketindihan terjadi ketika otak terbangun, namun tubuh masih dalam kondisi lumpuh sementara. Pakar tidur Tom Coleman menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi pada fase tidur REM (Rapid Eye Movement), yaitu tahap di mana mimpi paling hidup terjadi.
"Selama fase REM, otak sangat aktif, tetapi otot-otot tubuh 'dimatikan' secara otomatis oleh mekanisme pelindung agar kita tidak memperagakan gerakan dalam mimpi secara fisik," jelas Coleman.
Ketindihan terjadi ketika proses ini tidak sinkron: otak sudah sadar, tetapi tubuh masih dalam kondisi lumpuh REM. Akibatnya, sisa-sisa imajinasi mimpi "tumpah" ke alam sadar, memicu halusinasi yang terasa sangat nyata-seperti melihat sosok bayangan, merasa ada penyusup di kamar, hingga merasakan tekanan berat di dada.
Meskipun terasa sesak, pernapasan sebenarnya berjalan normal. Rasa sesak muncul karena otot-otot rangka sedang rileks sementara otot diafragma tetap bekerja.
Pemicu dan Cara Mengatasinya
Meskipun menakutkan, para ahli menegaskan bahwa ketindihan tidak berbahaya dan tidak terkait dengan gangguan makhluk halus. Kondisi ini biasanya dipicu oleh pola tidur yang berantakan atau stres yang tinggi. Beberapa pemicu utamanya meliputi:
- Kurang tidur kronis.
- Jadwal tidur yang tidak teratur (seperti kerja shift atau jet lag).
- Stres dan kecemasan berlebih.
- Tidur dalam posisi telentang.
Untuk mengurangi frekuensi ketindihan, para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana. Pertama usahakan tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, termasuk di akhir pekan.
Beberapa penelitian menunjukkan ketindihan lebih sering terjadi saat tidur telentang. Mencoba tidur menyamping bisa membantu.
Lebih lanjut, hindari penggunaan ponsel atau laptop satu jam sebelum tidur. Ciptakan suasana kamar yang gelap dan sejuk.
Jika ketindihan terjadi sangat sering dan mulai mengganggu kualitas hidup, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk melihat adanya kemungkinan kondisi medis lain seperti narkolepsi.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Bukan Mistis, Ini Alasan Medis Tubuh Terasa Lumpuh saat Alami Ketindihan"
