Hagia Sophia

30 March 2026

Kemenkes Laporkan Konten Penebar Hoax Terkait Provokasi Antivaksin

Provokasi kelompok anti vaksin dituding jadi penyebab rendahnya cakupan vaksinasi. Foto: Getty Images/Professor25

Meninggalnya dokter muda di Cianjur pada 26 Maret 2026 menjadi sorotan di tengah rendahnya cakupan imunisasi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menuding pengaruh dan provokasi dari kelompok antivaksin sebagai salah satu penyebab.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, dalam pesannya kepada wartawan. Menurutnya, vaksin dan vaksinasi merupakan intervensi pencegahan paling cost effective bagi kesehatan masyarakat.

"Pilihan untuk tidak divaksin tidak hanya berdampak kepada diri sendiri tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat yang lebih luas karena tidak terbentuk kekebalan tubuh dan kekebalan komunitas/herd immunity," katanya kepada detikcom, Jumat (27/3/2028).

Dalam pesannya, Aji menegaskan bahwa vaksin yang diberikan telah teruji keamanan, kualitas, dan khasiatnya. Vaksin juga telah terbukti mampu mengentaskan dan menekan banyak kasus penyakit menular seperti cacar dan polio, tidak hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia.

Kalaupun ada efek samping pada beberapa individu, hal itu disebutnya hanya bersifat ringan dan sementara. Sekalipun tidak melindungi 100 persen, vaksin disebutnya dapat menurunkan risiko sakir betat dan kematian akibat penyakit.

"Kemenkes juga sudah melaporkan konten dan tokoh publik yang menebarkan hoaks dan membuat konten menyesatkan ke pihak berwenang dan platform medsos untuk dilakukan penindakan," tegas Aji.

Dokter Internship Meninggal Suspek Campak

Campak kembali menjadi sorotan setelah seorang dokter laki-laki di Cianjur berinisial AMW meninggal pada 26 Maret 2026. Dokter berusia 26 tahun tersebut mengalami gejala kinis berupa demam, ruam merah, dan sesak napas berat.

Hasil pemeriksaan sementara, pasien mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisi kesehatan. Pasien ditangani RSUD Cimacan sesuai standar, namun tidak tertolong.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Kesehatan Cianjur dan Dinas Kesehatan Jawa Barat, bersama Kementerian Kesehatan melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) di lapangan. Di antaranya mencakup:
  • penelusuran kontak terat
  • mencari sumber penularan
  • melakukan penilaian risiko
  • memberikan vitamin A untuk mencegah penularan lebih luas.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kaitkan Campak dengan Provokasi Antivaksin, Kemenkes Laporkan Konten Penebar Hoax!"