![]() |
| Foto: Getty Images/champja |
Memiliki tubuh bugar bak usia 40 tahun di kala menginjak usia 80 adalah impian bagi banyak orang. Namun, bagi sebagian miliarder, mimpi tentang umur panjang (longevity) ini justru berubah menjadi mimpi buruk yang melahirkan gangguan mental baru: Longevity Fixation Syndrome.
Berbicara dengan NYPost, Jan Gerber, CEO klinis eksklusif Paracelsus Recovery di Swiss, mengungkapkan fenomena para pengusaha sukses terjebak dalam obsesi berlebihan untuk hidup selamanya. Mereka rela merogoh kocek hingga 120.000 dolar AS (sekitar Rp1,9 miliar) per minggu hanya untuk menjalani terapi pemulihan akibat stres yang dipicu oleh aturan hidup sehat mereka sendiri.
Gangguan ini sering kali dianggap sebagai perpanjangan dari orthorexia-obsesi patologis terhadap makanan sehat. Para pasien biasanya datang dengan kondisi kelelahan kronis (burnout), depresi, dan insomnia parah.
Alih-alih menikmati kekayaannya, mereka justru menghabiskan waktu berjam-jam untuk memantau data biologis dari wearable devices (cincin pintar atau monitor glukosa) meskipun mereka tidak memiliki risiko diabetes.
"Mereka melewatkan acara keluarga karena mengganggu 'protokol' kesehatan, atau menolak makan malam bersama teman demi sesi krioterapi," ujar Gerber. Akibatnya, mereka merasa terisolasi, kesepian, dan kehilangan hubungan sosial.
Dampak Fisik yang Mengerikan
Dr. Jordan Shlain, pendiri Private Medical di AS, juga melihat pola yang sama di klinisnya. Ia menyebut tren ini "menyakitkan untuk ditonton." Alih-alih mendapatkan kesehatan optimal, eksperimen ekstrem ini justru memicu kerusakan fisik yang nyata:
- Gagal Ginjal: Akibat konsumsi suplemen berlebihan tanpa pengawasan.
- Kekacauan Hormon: Dipicu oleh diet ketat dan puasa (fasting) ekstrem.
- Cedera Jantung: Akibat penggunaan senyawa peningkat performa yang dipasarkan sebagai "agen umur panjang."
"Orang-orang perlu memahami bahwa sebelum mereka menguasai empat pilar kesehatan, pola makan, olahraga, tidur, dan interaksi sosial, mereka tidak boleh bereksperimen dengan tubuh berdasarkan saran influencer Instagram," tegas Shlain.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Saat Orang Kaya Kena Longevity Fixation, Gangguan Jiwa gegara Obsesi Hidup Abadi"
