![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Singjai20 |
Belakangan penyakit campak menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat di Indonesia. Meski kasusnya mulai melandai dalam beberapa pekan terakhir, para ahli mengingatkan efek atau dampak dari campak yang tidak selalu berhenti saat pasien dinyatakan sembuh.
Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Prof dr Hinky Hindra Irawan Satari mengungkapkan penyakit campak bisa menimbulkan komplikasi jangka panjang yang fatal. Misalnya seperti gangguan otak yang baru muncul 7 hingga 10 tahun setelah infeksi awal.
"Campak bisa menyebabkan komplikasi berat, bahkan setelah sembuh. Ada kondisi yang muncul 7 sampai 10 tahun kemudian dan berakhir fatal," ucapnya dalam webinar, Rabu (1/4/2026).
Bisa Meninggal Dunia
Selain itu, risiko kematian akibat campak juga masih nyata. Data menunjukkan sekitar 1 dari 1.000 anak yang terinfeksi bisa meninggal dunia. Sementara sebagian lainnya mengalami komplikasi serius, seperti radang paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis).
Prof Hinky menjelaskan campak adalah salah satu penyakit paling menular. Satu orang yang terinfeksi bisa menularkan virus ke 12-18 orang lainnya, yang jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit infeksi lainnya.
"Sehingga penyebaran bisa cepat jika tidak dikendalikan dengan baik," tambahnya.
Menurutnya, kelompok yang paling rentan adalah anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, terutama balita. Tetapi, kasus juga bisa terjadi pada remaja hingga orang dewasa, khususnya mereka yang belum atau tidak lengkap menerima vaksin.
Melihat kondisi tersebut, Prof Hinky menekankan pencegahan melalui imunisasi menjadi langkah paling efektif. Dengan dua dosis vaksin, perlindungan terhadap campak bisa mencapai sekitar 97 persen, sehingga risiko sakit berat dapat ditekan secara signifikan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Guru Besar FKUI Wanti-wanti Efek Campak ke Otak, Bisa Muncul 7 Tahun setelah Terpapar"
