Hagia Sophia

04 April 2026

Varian Baru COVID-19 'Cicada' Dikawatirkan Serang Anak-anak

Foto ilustrasi: Getty Images/subjob

Varian baru COVID-19 'Cicada' disebut berpotensi mendominasi, khususnya di wilayah Inggris, dan dikhawatirkan lebih banyak menyerang anak-anak. Para ahli memperingatkan varian ini memiliki kemampuan tinggi dalam menghindari sistem kekebalan tubuh.

Varian 'Cicada' atau BA.3.2 disebut memiliki sekitar 75 mutasi pada spike protein, yang membuat virus dapat masuk ke dalam sel tubuh. Kondisi ini membuatnya lebih mudah menyebar dibandingkan varian sebelumnya.

"Ini berbeda dari virus (COVID-19) yang telah kita hadapi selama dua tahun terakhir," beber Profesor Ravi Gupta dari University of Cambridge, dikutip dari Mirror UK.

Diprediksi Jadi Varian Dominan

Prof Gupta menyebut varian ini sudah terdeteksi di Inggris dan jumlahnya terus meningkat. Ia memperkirakan varian ini bisa menjadi dominan di negara tersebut.

"BA.3.2 sedang menjalani pengujian saat ini. Kami telah menelitinya dalam hal penghindaran kekebalan dan kekebalan yang kita semua miliki," sambungnya.

Varian 'Cicada' merupakan turunan dari varian Omicron yang pertama kali muncul pada 2021. Virus ini sempat terdeteksi di Afrika Selatan pada 2024 sebelum menghilang, lalu kembali menyebar secara global.

Para ahli menduga mutasi dalam jumlah besar terjadi karena virus berkembang di tubuh satu pasien dengan sistem imun lemah dalam waktu lama. Misalnya pada orang dengan HIV atau pasien kanker.

Saat ini, varian 'Cicada' telah terdeteksi di sekitar 25 negara dan juga ditemukan dalam sistem air limbah di berbagai wilayah di Amerika Serikat.

Anak-anak Disebut Lebih Rentan

Menurut Prof Gupta, ada indikasi varian ini lebih sering menginfeksi anak-anak, terutama yang belum memiliki kekebalan terhadap COVID-19.

"Beberapa orang telah melakukan analisis tentang hal ini yang menunjukkan mungkin lebih umum terjadi pada anak-anak kecil," kata Prof Gupta.

"Anak-anak sering terinfeksi, tetapi ini mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa mereka belum pernah mendapatkan vaksin COVID-19," lanjutnya.

Dalam penjelasannya, ia mengatakan yang menjadi masalah adalah infeksi ini menyebar dengan cepat. Pada akhirnya, virus ini akan menyerang seseorang yang rentan.

Gejala Varian COVID-19 'Cicada'

Gejala varian COVID-19 'Cicada' disebut tidak jauh berbeda dari varian Corona lainnya. Beberapa di antaranya adalah:
  • Sakit tenggorokan
  • Batuk
  • Hidung tersumbat
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Demam
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagian pasien juga mengalami gangguan pencernaan seperti mual dan diare.

Meski penyebarannya lebih cepat, sampai saat ini belum ada bukti bahwa varian ini menyebabkan penyakit yang lebih parah. Tetapi, peningkatan jumlah kasus tetap berpotensi membuat angka pasien berat ikut naik.

Vaksin Masih Jadi Perlindungan

Prof Gupta menegaskan kelompok rentan seperti lansia dan orang dengan sistem imun lemah tetap berisiko tinggi. Meski begitu, vaksin masih memberikan perlindungan terhadap gejala berat.

"Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan lansia berada pada risiko terbesar, tetapi vaksin seharusnya dapat mencegah beberapa komplikasi paling parah pada sebagian besar orang," jelasnya.

Data dari CDC menunjukkan, pada periode November 2025 hingga Januari 2026, varian BA.3.2 menyumbang sekitar 30 persen kasus COVID-19 yang ditemukan di Denmark, Jerman, dan Belanda. Meski demikian, belum terlihat lonjakan total kasus dibanding tahun-tahun sebelumnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Varian COVID-19 'Cicada' Intai Usia Anak, Diprediksi Mendominasi-Picu Gelombang Baru"