![]() |
| Foto: Ilustrasi Makan Siang Gratis (Antara Foto/Andry Denisah) |
Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba model baru penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG). Makanan tidak lagi dibagikan dalam paket, tetapi dibawa dalam kondisi hangat ke kelas untuk kemudian disajikan secara prasmanan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan uji coba model tersebut telah dilakukan di lebih dari 60 dapur. Ia menyebut sistem ini diharapkan bisa membuat makanan yang diterima siswa lebih segar karena jeda antara makanan selesai dimasak dan disantap lebih singkat.
"Per hari ini, di tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas," beber Sudaryono dalam keterangan tertulis, Senin (5/10).
Menurut pria yang akrab disapa Mas Dar itu, model tersebut tengah dikaji dengan mengacu pada sistem penyediaan makanan sekolah di Jepang.
Ada beberapa alasan BGN menguji model prasmanan. Salah satunya terkait kondisi makanan ketika sampai ke siswa.
"Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu," katanya.
Sudaryono mengatakan pemangkasan waktu tunggu juga diharapkan dapat mengurangi risiko makanan mengalami kerusakan sebelum dikonsumsi.
Siswa Bisa Ambil Makanan Sesuai Kebutuhan
Sistem prasmanan juga memungkinkan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhannya. Jika masih ada makanan, siswa dapat mengambil tambahan.
Menurut Sudaryono, pola tersebut sejauh ini juga menunjukkan potensi mengurangi makanan yang terbuang.
"Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan waste-nya lebih sedikit karena prasmanan," ujarnya.
Namun, penerapan sistem ini tidak semudah sekadar memindahkan makanan dari dapur ke kelas. Sekolah dan dapur perlu menyiapkan mekanisme pelayanan, termasuk soal kebersihan dan penggunaan perlengkapan makan.
Siswa juga dapat dilibatkan dalam proses pelayanan secara bergiliran.
"Kalau prasmanan ini memang, kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuman memang perlu ada training yang cukup," kata Sudaryono.
Masih Diuji
BGN belum memastikan kapan model prasmanan tersebut akan diterapkan secara lebih luas. Saat ini pelaksanaan di berbagai sekolah masih dipantau dan dievaluasi.
Evaluasi diperlukan untuk melihat apakah sistem tersebut bisa berjalan dengan baik dalam kondisi sekolah yang berbeda-beda, termasuk dari sisi kesiapan dapur, tenaga pelaksana, sekolah, hingga jumlah penerima manfaat.
BGN juga mempelajari sistem makan di sekolah dari sejumlah negara, termasuk Jepang, sebelum menyesuaikannya dengan kondisi di Indonesia.
Hasil uji coba nantinya akan menjadi pertimbangan BGN untuk menentukan apakah model prasmanan akan dikembangkan lebih luas dalam pelaksanaan MBG.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "BGN Uji Coba MBG Model Prasmanan di 60 Dapur, Ini Alasannya"
