![]() |
| Foto: Getty Images/gorodenkoff |
Seorang pekerja perempuan di lembaga penelitian antipes di wilayah Irkutsk, Rusia, meninggal dunia di tengah rumor merebaknya wabah "Black Death" atau pes. Ia didiagnosis mengalami pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya. Sementara itu, Badan Pengawas Perlindungan Hak Konsumen dan Kesejahteraan Manusia Rusia (Rospotrebnadzor) menegaskan bahwa situasi di wilayah tersebut masih stabil.
Warga di wilayah Irkutsk, Siberia, diliputi kekhawatiran menyusul rumor kemungkinan merebaknya wabah pes paru. Spekulasi tersebut menyebar dengan cepat setelah seorang pegawai Institut Penelitian Antipes Irkutsk meninggal dunia.
Dikutip dari Euronews, Darya Shipilova meninggal pada dini hari 2 Oktober di ruang perawatan intensif rumah sakit distrik di Kota Shelekhov. Menurut laporan media lokal, ia diduga memecahkan tabung reaksi yang berisi patogen penyebab pes.
Insiden tersebut mendorong otoritas setempat memberlakukan langkah karantina. Sekitar 200 orang kini menjalani pemantauan medis ketat. Media Baikal People melaporkan bahwa sejumlah rumah sakit di Irkutsk langsung ditutup dan diberlakukan karantina yang diperkirakan berlangsung selama tiga pekan.
Pada Sabtu, penggunaan masker juga diwajibkan sebagai langkah pencegahan di pabrik aluminium Irkutsk yang berada di Shelekhov.
Warga Shelekhov mengaku melihat sejumlah orang mengenakan pakaian pelindung, masker, dan sarung tangan di jalanan. Para orang tua setempat juga menyebut masker dibagikan di sejumlah taman kanak-kanak.
Di sisi lain, respons cepat otoritas menunjukkan bahwa situasi tersebut dianggap serius. Kepala Rospotrebnadzor, Anna Popova, segera mendatangi rumah sakit di Shelekhov dan mengikuti rapat darurat komisi sanitasi dan antipenyebaran epidemi yang dipimpin Gubernur wilayah Irkutsk, Igor Kobzev.
Setelah insiden tersebut, pejabat setempat pada awalnya membatasi informasi yang disampaikan kepada publik. Selama 24 jam pertama, otoritas wilayah Irkutsk dan Gubernur Igor Kobzev menghindari penggunaan istilah "pes".
Pada 2 Oktober, Kobzev hanya menyebut adanya "infeksi yang sangat berbahaya" dan menyatakan bahwa "situasi berada dalam pengawasan ketat". Keesokan harinya, otoritas di Baikalsk mengimbau warga agar tidak bepergian ke Shelekhov karena adanya ancaman pes. Namun, unggahan tersebut dihapus beberapa jam kemudian.
Kepala Republik Buryatia, Alexey Tsydenov, turut memberikan pernyataan mengenai situasi tersebut. Dengan mengutip informasi dari Rospotrebnadzor dan pemerintah republik, ia menyebut kematian perempuan tersebut berkaitan dengan infeksi pes. Namun, pernyataannya kemudian diubah dengan menggunakan kalimat yang lebih berhati-hati.
Ketidakjelasan informasi tersebut semakin memicu kepanikan di media sosial, khususnya di wilayah Irkutsk dan daerah sekitarnya.
Epidemiolog ternama Rusia, Gennady Onishchenko, berupaya menenangkan warga setempat. Ia menjelaskan bahwa hewan pengerat dan kutu yang menjadi pembawa bakteri pes di Siberia biasanya mulai memasuki masa dormansi musim dingin pada awal Oktober.
Namun, penjelasan tersebut belum cukup untuk meredakan kekhawatiran masyarakat.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pekerja Laboratorium Rusia Tewas, 200 Orang Dikarantina akibat Kekhawatiran Wabah Pes"
