Hagia Sophia

11 January 2026

Ilmuwan Jepang Teliti Kemungkinan Manusia Bernapas Lewat Anus

Ilustrasi bernapas lewat anus (Foto: Getty Images/Wasan Tita)

Seorang peneliti asal Jepang tengah meneliti kemungkinan manusia dapat menyerap oksigen melalui saluran pencernaan, tepatnya lewat anus. Penelitian ini dipimpin oleh Takanori Takebe, seorang dokter sekaligus ahli biologi sel punca.

Dalam kesehariannya, Takebe dikenal sebagai peneliti yang mengembangkan organ hati buatan di laboratorium untuk menangani gagal organ. Namun, ketertarikannya pada konsep "pernapasan alternatif" ini bermula beberapa tahun lalu, ketika ayahnya terserang pneumonia dan harus menggunakan ventilator.

"Saya benar-benar terkejut betapa invasifnya prosedur ini," kata Takabe, dari dari Cincinnati Children's Hospital Medical Center di Ohio dan Osaka University di Jepang, dikutip dari Science News.

Kekhawatiran itu semakin besar karena ayahnya sebelumnya pernah menjalani pengangkatan sebagian paru-paru akibat infeksi. Kondisi tersebut membuat Takebe bertanya-tanya apakah ada cara lain untuk membantu pasien mendapatkan oksigen tanpa sepenuhnya bergantung pada paru-paru.

Inspirasi muncul ketika seorang mahasiswa pascasarjana membawa sebuah buku ke laboratorium Takebe yang menjelaskan bagaimana berbagai hewan mendapatkan oksigen melalui kulit, alat kelamin, atau usus mereka. Beberapa jenis ikan air tawar, seperti loach, diketahui dapat menelan udara untuk bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah.

Dengan latar belakang gastroenterologi, Takebe memahami bahwa usus manusia kaya akan pembuluh darah. Hal ini pula yang memungkinkan obat diberikan lewat enema dan langsung masuk ke aliran darah. Dari situ, ia menduga oksigen mungkin juga dapat diserap melalui jalur yang sama.

Takebe dan timnya mengembangkan perawatan mirip enema yang mengirimkan cairan bernama perfluorodecalin ke dalam rektum. Cairan ini, yang sudah digunakan dalam beberapa prosedur medis, dapat diisi dengan oksigen. Saat melepaskan oksigen ke dalam tubuh, ruang dalam struktur kimia cairan tersebut terbuka untuk menyerap karbon dioksida yang 'dihembuskan'.

Dalam uji coba pada tikus dan babi, enema berisi cairan kaya oksigen ini membantu hewan bertahan hidup dalam kondisi kekurangan oksigen. Pada babi, setiap dosis 400 mililiter mampu meningkatkan kadar oksigen darah selama sekitar 19 menit. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Med pada 2021, dan uji lanjutan pada 2023 menunjukkan efeknya bisa bertahan hingga sekitar 30 menit.

Takebe mengingat dengan jelas momen ketika darah babi yang awalnya tampak gelap berubah menjadi merah cerah setelah terapi. Perubahan itu menjadi tanda kuat bahwa ide yang terdengar tak lazim ini mungkin memang bekerja.

"Itu adalah momen pencerahan saya," katanya lagi.

Pada 2024, penelitian tersebut meraih Ig Nobel Prize, penghargaan yang diberikan untuk riset yang awalnya mengundang tawa, namun kemudian memicu pemikiran serius.

"Terima kasih banyak karena telah percaya pada potensi anus," kata Takebe pada upacara penghargaan sambil mengenakan topi berbentuk ikan loach.

Tahap berikutnya, tim peneliti menguji keamanan metode ini pada manusia. Sebanyak 27 pria sehat di Jepang diberikan perfluorodecalin tanpa oksigen melalui rektum dan diminta menahannya selama satu jam. Dosis terendah adalah 25 mililiter, sementara dosis tertinggi mencapai 1,5 liter, batas maksimum cairan kontras yang diizinkan untuk pemeriksaan saluran cerna.

Empat dari enam peserta yang menerima dosis 1,5 liter terpaksa menghentikan prosedur lebih awal karena nyeri perut. Namun, sebagian besar peserta yang menerima hingga 1 liter hanya mengalami kembung dan ketidaknyamanan ringan. Temuan ini dilaporkan dalam edisi 12 Desember jurnal Med. Penelitian tersebut didanai oleh EVA Therapeutics, perusahaan rintisan yang ikut didirikan Takebe.

Uji klinis selanjutnya akan menilai apakah perfluorodecalin yang diperkaya oksigen benar-benar mampu meningkatkan kadar oksigen darah manusia. Meski demikian, pendekatan ini menuai respons beragam dari kalangan medis.

Salah satu pihak yang skeptis adalah John Laffey, dokter dan peneliti gangguan pernapasan akut dari University of Galway, Irlandia. Menurutnya, upaya seharusnya difokuskan pada pengobatan yang mendukung paru-paru daripada melibatkan bagian tubuh lain untuk melakukan pekerjaan paru-paru.

"Paru-paru, bahkan paru-paru yang cedera, akan selalu melakukan pertukaran gas jauh lebih baik daripada organ lain mana pun, karena memang itulah fungsinya."

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Peneliti Jepang Teliti Kemungkinan Manusia Bisa Bernapas Lewat Anus"