![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/lolostock |
Kebiasaan mengorek hidung atau ngupil kerap dianggap sepele. Meski bisa memberikan rasa lega sementara, peneliti mengingatkan kebiasaan ini berpotensi memberikan dampak serius bagi kesehatan.
Bahkan, kebiasaan ini dikaitkan dengan penyakit yang hingga kini belum dapat disembuhkan. Peneliti menyebut kebiasaan ngupil dapat memicu masuknya bakteri Chlamydia pneumoniae.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menggambarkan bakteri ini sebagai sejenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan.
"Bakteri ini menyebabkan penyakit yang merusak lapisan saluran pernapasan, termasuk tenggorokan, saluran napas, dan paru-paru," tambahnya, dikutip dari Unilad.
Bakteri tersebut umumnya menyebabkan infeksi telinga, sinus, dan sakit tenggorokan. Tetapi, CDC memperingatkan Chlamydia pneumoniae juga bsia memicu penyakit yang lebih serius, seperti bronkitis, laringitis, hingga pneumonia.
Dikaitkan dengan Alzheimer
Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, penelitian lanjutan menemukan kemungkinan hubungan antara Chlamydia pneumoniae dan penyakit Alzheimer. Pada 2022, Griffith University di Australia melakukan studi menggunakan tikus sebagai model penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan kebiasaan mengorek hidung dapat membuat Chlamydia pneumoniae masuk ke saaf penciuman di hidung tikus. Dari sana, bakteri tersebut kemudian bergerak menuju otak.
Setelah berada di otak, bakteri tertentu dapat merangsang pengendapan protein beta amiloid, yang berpotensi memicu perkembangan penyakit Alzheimer. Beta amiloid diketahui terlibat dalam pembentukan plak di otak yang diyakini mendasari gejala Alzheimer, seperti gangguan daya ingat, masalah bahasa, hingga perilaku yang tidak dapat diprediksi.
Ahli saraf James St John menyoroti temuan tersebut saat penelitian dipublikasikan.
"Kami adalah yang pertama menunjukkan bahwa Chlamydia pneumoniae dapat langsung masuk melalui hidung dan ke otak, di mana ia dapat memicu patologi yang menyerupai penyakit Alzheimer," katanya.
"Kami melihat ini terjadi pada model tikus, dan buktinya berpotensi menakutkan bagi manusia juga," sambung dia.
Meski demikian, St John menegaskan proses tersebut tidak terjadi secara instan.
"Kami juga berpikir bahwa ini mungkin merupakan proses yang panjang dan lambat. Jadi kami tidak berpikir bahwa masuknya bakteri ke otak berarti Anda akan terkena demensia minggu depan," jelas St John.
"Sebaliknya, kami berpikir bakteri tersebut memicu perkembangan patologi yang lambat yang mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum menimbulkan gejala," tambahnya.
Pentingnya Kebersihan Tangan
Tinjauan naratif lain yang dipublikasikan di National Library of Medicine pada 2023 turut memperkuat temuan tersebut. Kajian ini meneliti teori bahwa neuroinflamasi pada penyakit Alzheimer, mungkin sebagian disebabkan oleh patogen yang masuk ke otak melalui sistem penciuman akibat kebiasaan mengorek hidung.
"Memahami peran potensial masuknya patogen melalui penciuman dalam neuroinflamasi yang terkait dengan penyakit Alzheimer membuka jalan baru untuk pencegahan," tegas para ahli.
"Di antara semua jalur masuk, peningkatan kebersihan tangan mungkin merupakan langkah pencegahan yang mudah, seperti yang dipelajari dari epidemi COVID-19," lanjutnya.
Menurut para ahli, salah satu pelajaran yang dipetik dari COVID-19 adalah pentingnya kebersihan tangan melalui sering mencuci tangan dan penggunaan pembersih tangan. Mereka menyarankan prosedur kebersihan rutin ini menjadi prosedur rutin wajib bagi mereka yang memiliki kebiasaan mengorek hidung.
Peneliti pun mengingatkan, menjaga kebersihan tangan dan menghindari kebiasaan ngupil bisa menjadi langkah sederhana, tetapi penting untuk menurunkan risiko penyakit berbahaya di kemudian hari.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Peringatan dari Ilmuwan, Kebiasaan Ngupil Jangan Dianggap Sepele"
