Hagia Sophia

12 October 2026

Kematian Petugas Lab Siberia Terkait Pes Bikin Warga Borong Antibiotik

Foto: Getty Images/iStockphoto/royaltystockphoto

Kematian seorang teknisi laboratorium di Siberia, Rusia, yang diduga berkaitan dengan penyakit pes, memicu kekhawatiran sekaligus keraguan di tengah masyarakat. Enam hari setelah kabar kematian itu mencuat, warga mengaku masih belum mendapat informasi yang jelas mengenai penyebabnya.

Darya Shipilova (28), teknisi laboratorium di Institut Penelitian Antipes Irkutsk, meninggal dunia di rumah sakit di Shelekhov pada Jumat. Hingga Kamis (8/10/2026), belum ada konfirmasi resmi bahwa kematiannya disebabkan oleh penyakit pes.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Amerika Serikat turut meminta informasi lebih lanjut terkait kasus tersebut. Namun, warga di Shelekhov, kota yang berjarak sekitar 19 km barat daya Irkutsk, mengaku hanya mengetahui informasi dari pemberitaan dan rumor yang beredar di internet.

Dikutip dari CNN, Jumat (9/10/2026), badan pengawas kesehatan dan perlindungan konsumen Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan Shipilova meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui. Otoritas juga membantah dugaan bahwa penyakitnya berkaitan dengan pekerjaan di laboratorium, sembari mengisolasi orang-orang yang sempat melakukan kontak dengannya.

Seorang warga berusia 36 tahun bernama Evgeniya mengatakan situasi di lingkungannya tampak berjalan seperti biasa. Meski tidak panik, ia mendengar kabar bahwa sejumlah orang sempat memborong antibiotik setelah rumor penyakit pes menyebar.

"Informasi resmi tidak ada, dan kami juga tidak memercayainya. Ada banyak rumor, tetapi apa yang sebenarnya terjadi masih belum jelas," kata Evgeniya kepada CNN.

Warga Sempat Borong Antibiotik

Tidak semua warga meragukan penjelasan pemerintah. Ekaterina (26) menilai masyarakat tidak perlu panik karena orang-orang yang melakukan kontak dengan teknisi laboratorium tersebut telah diisolasi.

Menurutnya, penyakit pes kini sudah memiliki pengobatan sehingga situasinya berbeda dengan pandemi COVID-19 yang ketika itu masih belum banyak diketahui masyarakat.

"Ini sudah abad ke-21, dan ada pengobatan untuk penyakit pes. Ini bukan seperti virus corona, yang merupakan sesuatu yang belum dikenal orang. Prospeknya jauh lebih baik," ujarnya.

Meski begitu, seorang apoteker di Irkutsk yang juga bernama Ekaterina mengatakan sempat terjadi peningkatan pembelian masker, antiseptik, dan antibiotik tetrasiklin di tempatnya bekerja pada Sabtu.

Warga disebut membeli berbagai produk tersebut untuk berjaga-jaga karena khawatir tertular.

"Masyarakat tentu takut terinfeksi. Sekarang tidak ada kepanikan. Itu hanya berlangsung satu hari. Kami tidak melihatnya lagi. Semuanya kembali tenang," kata apoteker berusia 27 tahun tersebut.

Warga lainnya, Alina (38), juga menilai situasi di daerahnya masih normal. Ia menganggap ramainya pemberitaan di media sosial tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Petugas Lakukan Disinfeksi

Di tengah minimnya informasi, muncul laporan mengenai upaya disinfeksi di sebuah apartemen yang diduga menjadi tempat tinggal Shipilova di Irkutsk.

Media independen Lyudi Baikala melaporkan, tiga kendaraan mendatangi sebuah gedung apartemen pada Jumat malam. Sejumlah petugas mengenakan masker gas dan pakaian oranye, kemudian membawa beberapa wadah untuk melakukan disinfeksi di area pintu masuk.

Seorang penghuni apartemen mengaku mencium bau bahan disinfeksi yang sangat menyengat.

Menurut kesaksiannya kepada media tersebut, petugas mengatakan seorang perempuan muda meninggal akibat virus mematikan, tetapi mereka tidak mengetahui informasi lebih lanjut.

CNN menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen laporan mengenai disinfeksi tersebut.

Sementara itu, seorang tenaga medis Rusia yang berbicara kepada Lyudi Baikala meragukan pernyataan otoritas bahwa penyakit Shipilova tidak berkaitan dengan pekerjaannya.

Ia menyebut pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab infeksi dapat memerlukan waktu hingga 10 hari. Karena itu, menurutnya, patogen penyebab penyakit tidak bisa dipastikan hanya sehari setelah autopsi.

Ibu Korban Belum Bisa Memakamkan Anaknya

Di balik kekhawatiran mengenai kemungkinan penyebaran penyakit, keluarga Shipilova juga menghadapi duka yang mendalam.

Ibu korban, Svetlana Shipilova, dilaporkan turut menjalani karantina di sebuah rumah sakit di Irkutsk. Kepada media lokal Glubina, ia mengatakan putrinya belum dimakamkan.

"Siapa yang akan memakamkannya jika kami sendiri masih berada dalam penahanan? Dia pekerja keras. Jiwa yang begitu murni," kata Svetlana.

Ketidakjelasan informasi turut memicu skeptisisme warga terhadap pernyataan pemerintah. Yulia (25), warga setempat, mengatakan masyarakat sudah terbiasa menghadapi keterbatasan informasi.

"Orang-orang sudah tidak terkejut dengan apa pun lagi. Informasi selalu terbatas. Saya pikir, kondisi seperti itu terjadi di setiap wilayah," ujarnya.

Seorang warga Irkutsk bahkan menyindir penggunaan istilah dalam pernyataan resmi pemerintah Rusia melalui komentar di Telegram. Ia membandingkan sejumlah istilah yang dianggap memperhalus situasi, termasuk penyebutan penyakit pes sebagai pneumonia yang penyebabnya belum diketahui.

Sindiran tersebut menggambarkan ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap informasi resmi di tengah belum terungkapnya penyebab pasti kematian Shipilova.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dugaan Kematian Petugas Lab Siberia terkait Pes, Warga Sempat Panik Borong Antibiotik"