Hagia Sophia

18 March 2026

BMKG: Kemarau Mulai Lebih Awal, Lebih Kering dan Lebih Lama

Foto: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja merilis prediksi iklim yang harus menjadi kewaspadaan masyarakat. Indonesia akan menghadapi musim kemarau yang lebih maju, lebih kering, dan lebih panjang tahun ini.

Kondisi ini bukan hanya soal cuaca panas yang menyengat, tapi juga menjadi 'undangan terbuka' bagi polusi udara untuk mencapai level tertingginya. Fenomena La NiƱa (yang biasanya bikin banyak hujan) sudah resmi berakhir pada Februari 2026. Artinya, pasokan air dari langit akan berkurang drastis.

Dalam keterangan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau lebih awal (MAJU) dari biasanya, dimulai dari Nusa Tenggara lalu merembet ke wilayah lain pada April hingga Juni 2026. Sebanyak 64,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemarau Bawah Normal, alias lebih gersang dari biasanya.

Mengapa Kemarau Kering Berbahaya buat Paru-paru?

Saat hujan sering turun, polutan di udara 'dicuci' dan jatuh ke tanah. Namun, saat kemarau kering melanda, partikel debu dan polusi (PM2.5) akan betah melayang-layang di udara yang kita hirup.

"Rata-rata Jakarta tahun lalu berada di atas 40. Pada musim kemarau bahkan bisa naik sampai 80-100, dan kadang-kadang bisa mencapai 200," jelas Piotr Jakubowski, Co Founder salah satu pemantau aplikasi kualitas udara di agenda ecoCare Pure Air.

Sebagai gambaran, angka 200 itu sudah masuk kategori sangat tidak sehat. Udara jadi terasa berat, berdebu, dan sangat berisiko memicu ISPA hingga masalah jantung.

Di tengah kepungan polusi kemarau, banyak orang mengandalkan air purifier di dalam ruangan. Namun, Piotr mengingatkan agar kita tidak hanya percaya pada indikator warna (hijau, kuning, merah) yang ada di perangkat tersebut.

Piotr juga menilai ketersediaan data kualitas udara yang dipantau sepanjang tahun menjadi kunci untuk memperbaiki kondisi lingkungan.

"Dengan adanya monitoring kualitas udara 365 hari per tahun, kita tahu kapan kualitasnya bagus atau buruk. Data itu penting untuk memperbaiki kualitas udara secara sistematis," katanya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal, Waspada Polusi Udara 'Gas Pol'!"