Hagia Sophia

19 February 2026

Malaysia Hadapi Kasus TBC yang Bisa Menular Diam-diam

Foto: ilustrasi/thinkstock

Malaysia kini tengah menghadapi tantangan serius melawan penyakit Tuberkulosis (TBC). Para pakar medis menggambarkan situasi saat ini sebagai "slow-burn epidemic", sebuah epidemi yang merayap perlahan namun pasti seiring dengan meningkatnya jumlah klaster aktif yang mulai masuk ke lingkungan sekolah dan asrama.

Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, mengungkapkan bahwa hingga awal Februari 2026, telah terdeteksi 10 klaster TBC baru di tujuh negara bagian. Salah satu yang paling mengkhawatirkan berada di Johor, di mana seorang guru mengaji menjadi sumber penularan bagi 29 anak-anak dan 8 orang dewasa.

Fenomena TBC di Malaysia dianggap berbahaya karena sifatnya yang laten. Dzulkefly memperingatkan bahwa banyak orang mungkin sudah terpapar tanpa menyadarinya karena bakteri tersebut bersifat "tidur" di dalam tubuh.

"Bakteri itu ada di dalam tubuh kita, tapi bersifat laten. Ketika imunitas kita turun, bakteri tersebut akan berkobar (flare up)," jelas Dzulkefly. Inilah alasan mengapa TBC disebut epidemi yang membara perlahan; ia menunggu saat tubuh manusia lemah untuk menyerang.

Bahaya Penyebaran yang Tidak Terdeteksi

Istilah "slow-burn epidemic" ditegaskan oleh dr Venu Gopalan, seorang praktisi medis di Kuala Lumpur. Ia menyoroti kenaikan kasus yang stabil namun terus-menerus selama satu dekade terakhir.

"Saya menggambarkan TBC sebagai apa yang kita sebut sebagai slow-burn epidemic," ujar dr. Venu kepada SCMP.

Menurutnya, bahaya terbesar masyarakat saat ini adalah penyebaran TBC yang tidak terdeteksi, padahal penyakit ini sebenarnya sangat mudah didiagnosis dan diobati jika ditemukan sejak dini.

Kesulitan penanganan TBC saat ini adalah perpindahan penularan dari lingkup rumah tangga ke institusi besar. Konsultan dokter anak, Dr. Amar-Singh HSS, menyebutkan bahwa berbagi udara di ruang publik jauh lebih berisiko.

"Di asrama atau tempat kerja, kita berbagi udara yang sama dengan banyak orang. Jauh lebih sulit untuk melakukan pelacakan kontak (contact tracing) di lingkungan institusi besar," tegas Dr. Amar-Singh. Hal ini terbukti dengan munculnya kasus di sekolah dasar yang melibatkan belasan siswa di wilayah Johor.

Meski publik sempat berspekulasi bahwa pekerja asing menjadi pemicu, data Kemenkes Malaysia justru menunjukkan bahwa 85% pasien TBC selama satu dekade terakhir adalah penduduk lokal.

Kementerian Kesehatan kini gencar melakukan skrining pada individu dengan gejala batuk berkepanjangan, demam, dan penurunan berat badan drastis. Masyarakat juga diingatkan untuk menuntaskan pengobatan minimal selama enam bulan agar bakteri tidak bermutasi menjadi lebih kuat dan terus menular ke orang lain.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pakar Singgung 'Slow-Burn Epidemic' TBC di Malaysia, Bisa Menular Diam-diam"