![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/designer491 |
Stroke kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Kasus stroke pada kelompok usia muda, termasuk 20-an hingga 40-an tahun, dilaporkan terus meningkat dan membuat pada dokter khawatir.
Data terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menunjukkan pada periode 2020-2022, terjadi lonjakan stroke sebesar 14,6 persen pada kelompok usia 18 hingga 44 tahun.
"Kami belum pernah memiliki pasien semuda ini," kata Kepala Layanan Neuroendovascular Endeavor Health Neurosciences Institute, Dr Mohammad Anadani.
"Biasanya kami tidak memikirkan stroke pada pasien usia 20 tahun. Merawat mereka terasa jauh lebih menekan karena mereka masih sangat muda," ujarnya dikutip dari NYPost.
Cerita Dokter Tangani Pasien Stroke Muda
Dr Anadani baru-baru ini menangani dua pasien stroke berusia awal 20-an, yakni Ann Fulk (24) dan Aubrey Hasley (23). Keduanya mengalami stroke secara mendadak meski dinilai sehat dan tidak memiliki penyakit kronis berat.
Menurut Dr Anadani, stroke yang dialami keduanya diduga bersifat embolik, yakni gumpalan darah berasal dari bagian tubuh lain lalu menuju ke otak. Salah satu faktor risikonya adalah penggunaan kontrasepsi oral, yang diketahui dapat meningkatkan risiko stroke.
Pada kasus Hasley, ditemukan juga kondisi foramen ovale paten. Itu merupakan lubang kecil di jantung yang memungkinkan gumpalan darah melewati paru-paru dan langsung menuju otak.
Soal meningkatnya kasus stroke di usia muda, Dr Anadani menyebut penyebab pastinya masih belum sepenuhnya dipahami. Tetapi, ia menilai kondisi ini kemungkinan besar berkaitan dengan meningkatnya faktor risiko klasik penyakit pembuluh darah otak.
"Hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas kini semakin banyak ditemukan pada orang muda," kata Dr Anadani.
"Ditambah lagi, faktor gaya hidup seperti stres tinggi, jam kerja panjang, dan kurang aktivitas fisik," sambungnya.
Selain itu, konsumsi kafein berlebihan juga diduga ikut berperan. Fulk mengaku sering mengonsumsi minuman berkafein tinggi karena tuntutan pekerjaan.
Dalam satu kaleng minuman yang dikonsumsinya mengandung sekitar 200 mg kafein, sementara batas aman kafein harian untuk orang dewasa sehat adalah maksimal 400 mg.
Meski belum ada bukti kuat yang secara langsung mengaitkan minuman energi dengan stroke, Dr Anadani menyebut beberapa studi menemukan kaitannya dengan peningkatan tekanan darah dan gangguan irama jantung. Salah satunya fibrilasi atrium, yakni kondisi yang diketahui meningkatkan risiko stroke.
Efek Minuman Energi
Ahli jantung di Amerika Serikat, Dr Evan Levine, sebelumnya juga menyebut minuman energi sebagai salah satu minuman terburuk bagi kesehatan jantung. Ia turut menyoroti penggunaan obat stimulan, seperti Adderall yang semakin mudah diakses, terutama lewat layanan telemedicine.
"Orang muda sehat usia 20-40 tahun yang mengonsumsi obat-obatan ini memiliki risiko gangguan jantung hingga 57 persen lebih tinggi, dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi," tutur Dr Levine.
Namun, Dr Anadani menekankan bahwa peran minuman energi dan obat stimulan kemungkinan masih lebih kecil dibandingkan faktor utama lainnya.
"Obesitas, kurang bergerak, dan stres kronis tetap menjadi kontributor terbesar meningkatnya stroke di usia muda," pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dokter Saraf Makin Sering Tangani Pasien Stroke Muda, Ada yang Umur 20-an"
