Hagia Sophia

23 January 2026

PERSAGI: Kebiasaan Konsumsi Makanan UPF Memicu Penyakit Kronis di Kemudian Hari

Foto: Shutterstock

Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menyoroti masih tingginya konsumsi makanan ultra-processed food, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Dalam peringatan Hari Gizi Nasional, PERSAGI mengingatkan kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman berpemanis serta makanan kemasan berisiko memicu berbagai penyakit kronis di kemudian hari.

Edukator gizi PERSAGI, Ni Ketut Aryas Tami mengimbau masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan UPF dan tinggi gula garam lemak (GGL).

"Kita harus mengurangi makanan proses, karena itu menjadi risiko untuk penyakit. Banyak mengandung gula, garam, dan lemak. Apalagi minuman berpemanis, isinya hanya kalori dan energi, tidak ada zat gizi lain. Itu mudah diserap tubuh dan cepat disimpan menjadi lemak," bebernya saat ditemui detikcom, Rabu (21/1/2026).

Ni Ketut menjelaskan, konsumsi berlebihan gula, garam, dan lemak (GGL) dapat memicu berbagai penyakit tidak menular. Gula meningkatkan risiko diabetes, garam berkaitan dengan hipertensi, sementara lemak berlebih meningkatkan risiko penyakit jantung.

"Kalau lemaknya tinggi, risikonya ke jantung. Gulanya ke diabetes. Garam-nya ke hipertensi. Semua itu berkaitan dengan sindrom metabolik," jelasnya.

Ia mengingatkan, sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan gangguan lemak darah yang secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

"Yang mengkhawatirkan, sekarang kasusnya makin banyak muncul," katanya.

Selain tinggi gula, garam, dan lemak, makanan UPF juga umumnya mengandung banyak bahan tambahan pangan dan diolah dengan suhu tinggi.

"Di samping aditif, cara masaknya juga sering high heat. Ini bisa mengubah lemak yang tadinya sehat menjadi lemak trans. Lemak trans ini salah satu pemicu penyakit, termasuk kanker," wanti-wantinya.

PERSAGI menilai penting bagi masyarakat untuk benar-benar memahami apa itu makanan sehat dan mulai mengubah pola makan sejak dini.

"Penyakit akibat gizi ini bukan sakit hari ini atau besok. Bukan karena virus atau kuman. Efeknya jangka panjang, sakitnya baru terasa saat usia dewasa," tegasnya.

Ni Ketut mencontohkan, kebiasaan mengonsumsi makanan kemasan dan minuman manis sangat mudah mendorong terjadinya obesitas pada anak.

"Kalau sering makan makanan kemasan, obesitas itu mudah sekali. Kita tahu angkanya terus naik. Setelah itu risikonya menyusul, penyakit jantung, ginjal, sampai kanker. Itu yang ingin kita cegah sejak dini," katanya.

Sebagai upaya pencegahan, PERSAGI mendorong edukasi gizi sejak usia sekolah. Salah satu program yang terus didorong adalah pengembangan kebun gizi di sekolah.

"Kalau anak-anak dikenalkan dari kecil dari mana makanan sehat berasal, mereka akan lebih paham dan lebih mau mengonsumsi makanan segar dan alami," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Hari Gizi Nasional, PERSAGI Soroti Bahaya di Balik Tingginya Konsumsi Makanan UPF"