Hagia Sophia

24 January 2026

Sejumlah Tanda Kelebihan Gula yang Dialami Organ Tubuh

Asupan gula berlebih dapat memberikan dampak kronis bagi organ penting di dalam tubuh. Foto: Getty Images/iStockphoto/Anna Shkuratova

Tubuh manusia sebenarnya bisa beradaptasi dan mentoleransi apabila menerima kesalahan kecil dalam pola makan, begadang sesekali, atau asupan manis yang berlebihan pada hari-hari tertentu. Di saat gula menjadi bagian dominan dari pola makan harian, tubuh tidak langsung jatuh sakit. Ia justru beradaptasi, menyesuaikan diri, lalu mengirim sinyal-sinyal halus dari berbagai organ.

Istilah "overdosis" gula tidak merujuk pada kondisi akut seperti keracunan. Ini adalah keadaan kronis, ketika tubuh terus-menerus menerima gula lebih banyak daripada yang bisa diolah dengan efisien. Dampaknya menyebar ke banyak organ, bukan sekaligus, tapi bertahap. Sering kali, keluhan awalnya dianggap wajar seperti lelah, sulit fokus, cepat lapar, atau merasa "tidak fit" tanpa alasan jelas.

1. Pankreas
Pankreas adalah penjaga utama keseimbangan gula darah. Setiap kali makan, terutama makanan tinggi karbohidrat sederhana atau minuman manis, pankreas merespons dengan melepaskan insulin. Insulin bertugas membuka pintu sel agar gula bisa masuk dan digunakan sebagai energi.

Masalah muncul ketika lonjakan gula terjadi terlalu sering. Pankreas dipaksa memproduksi insulin dalam jumlah besar dan berulang. Dalam jangka panjang, sel-sel tubuh mulai kurang responsif terhadap insulin. Inilah awal resistensi insulin penyebab diabetes.

Penelitian di Diabetes Care dan The Lancet Diabetes & Endocrinology menunjukkan bahwa fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun sebelum diabetes terdiagnosis. Pankreas bekerja lebih keras ketika konsumsi gula terlalu banyak sehingga membuat tubuh cepat lapar meski baru makan, mudah mengantuk setelah makan besar, dan berat badan naik perlahan, terutama di area perut. Banyak yang mengira ini sekadar tanda usia bertambah atau kurang olahraga, padahal pankreas sedang bekerja terlalu keras.

2. Otak
Otak membutuhkan pasokan glukosa yang stabil. Asupan gula yang berlebih bisa menyebabkan sugar rush yaitu kondisi energi melonjak tinggi, dan sugar crash yaitu kondisi energi menurun drastis. Fluktuasi gula darah yang tajam membuat pasokan ini tidak konsisten. Akibatnya, fungsi kognitif bisa terganggu meski seseorang tidak sedang kurang tidur atau stres berat.

Dalam kondisi ini, seseorang bisa merasa sulit fokus, mudah terdistraksi, atau seperti ada kabut tipis yang menyelimuti pikiran (brain fog). Penelitian terbaru di jurnal Frontiers in Neuroscience dan Nutrients tahun 2022 menunjukkan bahwa fluktuasi gula darah berulang berkaitan dengan peradangan ringan di otak dan gangguan fungsi kognitif jangka pendek. Inilah yang sering dirasakan sebagai brain fog, sulit fokus, mudah lupa, dan mental terasa cepat lelah.

3. Kulit
Kulit sering menjadi organ yang paling jujur dalam menunjukkan kondisi metabolik. Ketika kadar gula dalam darah sering tinggi, terjadi proses yang disebut glikasi. Molekul gula menempel pada protein kolagen dan elastin, dua komponen penting yang menjaga kulit tetap kenyal dan elastis.

Kondisi ini dapat menyebabkan kulit kehilangan kekenyalannya lebih cepat, tampak kusam, dan lebih mudah meradang. Jerawat yang sulit sembuh atau muncul berulang juga sering berkaitan dengan lonjakan insulin yang memicu produksi sebum berlebih.

Dalam jurnal Clinical Dermatology dan b, disebutkan bahwa kondisi seperti acanthosis nigricans sering kali menjadi tanda awal dari kulit disebabkan seringnya kadar gula darah yang tinggi. Acanthosis nigricans adalah kondisi kulit di leher, ketiak, atau lipatan tubuh menjadi gelap, tebal, dan bertekstur bukan karena kotor, melainkan karena sel kulit merespons kadar insulin yang tinggi.

4. Ginjal
Ginjal bekerja tanpa henti menyaring darah. Ketika kadar gula meningkat, organ ini berusaha membuang kelebihan glukosa melalui urine dengan menarik lebih banyak cairan dari tubuh. Proses ini membuat frekuensi buang air kecil meningkat dan rasa haus muncul terus-menerus.

Biasanya, rasa haus tersebut sering disalahartikan sebagai kurang minum atau sekadar efek cuaca panas. Padahal, kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa ginjal sedang bekerja lebih keras dari biasanya.

Menurut Journal of The American Society of Nephrology tahun 2017 dan jurnal Kidney International tahun 2022, beban filtrasi glukosa yang tinggi dalam jangka panjang dapat mengubah struktur dan fungsi ginjal, bahkan sebelum seseorang didiagnosis diabetes.

5. Usus
Usus bukan sekadar saluran pencernaan, melainkan rumah bagi triliunan mikroorganisme yang memengaruhi metabolisme, sistem imun, hingga suasana hati. Makanan sumber karbohidrat menjadi sumber makanan utama bagi jenis bakteri tertentu.

Asupan gula yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus. Bakteri jahat yang menyukai gula sederhana cenderung berkembang lebih dominan, sementara populasi bakteri baik menurun. Studi di jurnal Frontiers in Immunology tahun 2020 menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan peradangan ringan kronis serta gangguan regulasi rasa lapar. Secara klinis, gangguan ini sering dirasakan sebagai perut yang mudah kembung, rasa lapar yang cepat muncul meski baru makan, serta keinginan kuat terhadap makanan manis.

6. Hati
Hati merupakan pusat metabolisme energi tubuh. Gula berlebih yang tidak digunakan oleh sel akan diolah oleh hati menjadi lemak. Dalam jumlah kecil, proses ini masih tergolong normal. Namun, jika berlangsung terus-menerus, lemak akan menumpuk di jaringan hati dan memicu kondisi yang dikenal sebagai Non-alcoholic fatty liver (NAFL).

Kondisi ini berbahaya karena berkembang secara senyap tanpa nyeri khas. Keluhannya sering samar, mulai dari tubuh yang cepat lelah, perut terasa penuh, hingga peningkatan lemak di area perut. Penelitian di jurnal Nutrients (2017) dan Journal of Hepatology (2010) menegaskan bahwa fruktosa berlebih, terutama dari minuman manis, berperan besar dalam proses tersebut. Gangguan hati tetap dapat terjadi bahkan pada orang dengan berat badan normal apabila pola konsumsi gulanya tinggi.

7. Gigi
Gigi sering menjadi organ pertama yang terdampak oleh kelebihan gula. Tanda yang paling umum meliputi gigi berlubang, gusi yang mudah berdarah atau bengkak, serta bau mulut yang cepat kembali meski sudah menyikat gigi.

Gigi berlubang terjadi karena bakteri di rongga mulut menggunakan gula sebagai sumber energi dan mengubahnya menjadi asam. Asam ini menurunkan pH mulut dan melemahkan enamel. Jika kondisi asam terjadi berulang, lapisan pelindung gigi rusak dan lubang mulai terbentuk secara perlahan.

Gusi berdarah dan bengkak berkaitan dengan penumpukan plak. Gula mempercepat pertumbuhan bakteri plak di sepanjang garis gusi, memicu peradangan dan membuat gusi lebih sensitif. Pada kondisi gula darah yang sering tinggi, kemampuan gusi untuk melawan infeksi juga menurun.

Bau mulut muncul karena bakteri tertentu memecah sisa gula dan menghasilkan senyawa sulfur berbau tajam. Selama gula sering masuk ke mulut, produksi bau ini akan terus berulang.

8. Jantung dan Pembuluh Darah
Jantung dan pembuluh darah sering tidak langsung dikaitkan dengan gula. Banyak yang masih menganggap dampak gula berhenti di diabetes. Padahal, lonjakan gula darah yang berulang juga memberi tekanan besar pada sistem kardiovaskular.

Gula darah yang sering tinggi bisa memicu peradangan ringan pada dinding pembuluh darah. Lapisan endotel, yang berfungsi menjaga kelenturan dan kelancaran aliran darah, menjadi kurang responsif. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat pembuluh darah lebih kaku dan rentan terhadap pembentukan plak.

Lonjakan gula juga hampir selalu disertai lonjakan insulin. Kombinasi ini mendorong peningkatan kadar trigliserida dan penurunan kolesterol baik HDL. Penelitian dalam Journal of Nutritional Science and Vitaminology tahun 2020 tentang pola makan tinggi gula menunjukkan bahwa perubahan profil lemak darah yaitu HDL dan LDL berkontribusi langsung pada meningkatnya risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Tubuh juga lebih mudah lelah, jantung terasa berdebar saat aktivitas ringan, atau tekanan darah perlahan meningkat. Karena gejalanya samar, banyak orang baru menyadari kaitannya dengan gula ketika risiko kardiovaskular sudah terbentuk.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "8 Tanda 'Overdosis' Gula yang Dialami Organ Tubuh"