![]() |
| Foto: Pixabay/congerdesign |
Gula secara umum bukanlah sesuatu yang berbahaya. Namun, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit kronis.
Kandungan gula, utamanya dari minuman manis, meningkatkan asupan kalori tanpa memberikan manfaat gizi. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan obesitas pada semua kelompok usia. Peningkatan berat badan tersebut kemudian dapat memperbesar risiko penyakit seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.
Konsumsi gula tambahan secara berlebihan juga dikaitkan dengan masalah kesehatan gigi dan memengaruhi suasana hati, serta kejernihan berpikir. Sejumlah studi mengaitkan konsumsi gula berlebihan dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan.
"Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa gula tidak sekadar menambah kalori. Gula secara diam-diam membajak nafsu makan, keinginan makan, insulin, dan lemak di hati. Itulah sebabnya saya meminta pasien mencoba 14 hari tanpa gula tambahan," ujar gastroenterolog dr Saurabh Sethi, dikutip dari NDTV, Senin (5/1/2026).
Oleh karena itu, puasa makan gula tambahan sangat penting untuk tubuh. Menurut dr Sethi, puasa gula selama 14 hari dapat memberikan beberapa efek seperti perut lebih rata, tidur lebih nyenyak, hingga sinyal lapar yang lebih jelas.
Puasa gula selama 14 hari juga bermanfaat untuk mengurangi dorongan ngemil dan memperbaki kadar gula darah puasa.
"Menghindari gula tambahan selama 14 hari adalah reset metabolik, bukan sekadar tren penurunan berat badan," katanya.
Beberapa manfaat lain yang bisa didapatkan meliputi:
- Memperbaiki lonjakan insulin
- Mengurangi beban gula di hati
- Menurunkan retensi air
- Mengatur ulang sensitivitas rasa
- Mengurangi lemak visceral
dr Sethi menegaskan tidak seluruh gula harus dihindari. Buah-buahan masih boleh dikonsumsi karena kandungan gizinya dibutuhkan oleh tubuh.
dr Sethi menjelaskan tubuh akan melakukan penyesuaian ketika melakukan puasa gula tambahan. Bagi sebagian orang, penyesuaian ini akan terasa berat.
Penyesuaian ini akan ditandai dengan keinginan makan (cravings), sakit kepala atau kelelahan, mudah marah, dan kabut otak (brain fog). Gejala tersebut akan secara perlahan menurun, energi lebih stabil, sehingga rasa lemas juga berkurang.
"Ini bukan gejala putus zat. Ini adalah proses otak Anda menyesuaikan ulang sinyal rasa senang," tandasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ini yang Terjadi pada Tubuh ketika Puasa Gula Selama 14 Hari"
