Hagia Sophia

10 August 2022

Ahli Sebut Puncak BA.5 Mundur, Kasus COVID-19 Kembali Meningkat

detikcom

Diprediksi mencapai 20 ribu kasus pada Juli 2022, COVID-19 harian masih fluktuatif di angka 4-6 ribu kasus. Jangan lengah, pakar memperkirakan puncak BA.5 memang mundur.

Wanti-wanti ini disampaikan pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. Ia memperkirakan, puncak Omicron BA.5 baru akan tercapai sekitar akhir Agustus atau bahkan hingga September.

"Kita ini masih dalam gelombang 4 dari BA.5 yang utamanya disebabkan BA.5. Ini belum berakhir gelombang 4 ini , puncak pun belum. Mungkin menjelang akhir Agustus, atau bahkan ke September," ujar Dicky pada detikcom, Senin (8/8/2022).

Banyaknya orang yang sudah memiliki imunitas membuat gelombang 4 COVID-19 di Indonesia terjadi lebih lambat. Meski begitu, Indonesia disebutnya belum bisa disebut aman hingga Oktober mendatang.

"Di kita, masa rawan kita prediksi saya sampai Oktober. Rawan ini bukan berarti kematian tidak, tapi kalau kita ini lemah dalam 3T, upaya pencegahan 5M, vaksinasi, pada gilirannya ini akan memakan korban jiwa yaitu kelompok paling rawan di kita yaitu lansia, tenaga kesehatan yang dalam posisi risiko tinggi, termasuk anak atau ibu hamil, atau yang komorbid," paparnya.

Jumlah konfirmasi harian COVID-19 sendiri masih fluktuatif, bahkan sempat turun ke level 4 ribu setelah beberapa hari konsisten di level 6 ribu.

Berikut riwayat penambahan kasus sepekan:
  • 9 Agustus tambah 6.276 kasus positif dari 128.503 spesimen yang diperiksa
  • 8 Agustus tambah 4.425 kasus positif dari 107.688 spesimen yang diperiksa
  • 7 Agustus tambah 4.279 kasus positif dari 81.915 spesimen yang diperiksa
  • 6 Agustus tambah 5.455 kasus positif dari 102.800 spesimen yang diperiksa
  • 5 Agustus tambah 6.323 kasus positif dari 112.219 spesimen yang diperiksa
  • 4 Agustus tambah 6.527 kasus positif dari 125.756 spesimen yang diperiksa
  • 3 Agustus tambah 6.167 kasus positif dari 121.536 spesimen yang diperiksa
Sementara itu, booster kedua vaksin COVID-19 saat ini mulai diberikan kepada tenaga kesehatan di garda depan penanganan COVID-19. Pemberian booster kedua diharapkan bisa meningkatkan imunitas yang menurun setelah 6 bulan pemberian vaksin.

Meski demikian, hingga kini belum ada rencana untuk memperluas cakupan booster kedua ke populasi umum. Saat ini yang masih menjadi prioritas adalah memperluas cakupan booster pertama.

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI dr Maxi Rein Rondonuwu beberapa waktu lalu.

"Belum ada kebijakan, kita selesaikan dulu yang pertama. Booster pertama itu baru 20 persen, itu dulu," kata Maxi saat dijumpai di kantor Kemenkes, Senin (8/8/2022).

Selanjutnya setelah tenaga kesehatan, prioritas booster kedua akan diberikan pada kelompok yang dinilai rentan. Di antarnya adalah lansia dan pengidap penyakit komorbid.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pakar Wanti-wanti Puncak BA.5 Mundur, COVID-19 RI Beneran Ngegas Lagi"