Hagia Sophia

21 December 2022

COVID-19 Melonjak di China, WHO Batal Cabut Status Pandemi?

Ilustrasi COVID-19 di China. (Foto: REUTERS/ALESSANDRO DIVIGGIANO)

Sejumlah ilmuwan dan penasihat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai masih terlalu dini untuk menentukan akhir dari fase darurat pandemi COVID-19. Hal ini menyusul tren atau situasi COVID-19 di China.

COVID-19 di China 'menggila' usai pemerintah melonggarkan aturan pembatasan zero COVID-19, proyeksi kematian kasus di negara itu bahkan disebut mencapai satu juta jiwa.

"Jelas bahwa kita berada dalam fase [pandemi] yang sangat berbeda, tetapi dalam pikiran saya, gelombang yang tertunda di China adalah wild card,'" tutur ahli virologi Belanda Marion Koopmans, dikutip dari Reuters.

Padahal, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus sebelumnya memperkirakan kemungkinan status darurat COVID-19 global bakal bisa dicabut tahun depan. Namun, dengan situasi China saat ini, dikhawatirkan bisa memicu beragam varian baru muncul hingga gelombang COVID-19 kembali mewabah di sejumlah negara.

Membiarkan virus menyebar dapat memberikan ruang untuk bermutasi, berpotensi menciptakan varian baru, sejalan dengan bagaimana virus itu berevolusi ketika dibiarkan menyebar di wilayah lain.

Saat ini, data dari China yang dibagikan dengan WHO dan database virus GISAID menunjukkan varian yang beredar di sana adalah Omicron dan turunannya, meskipun gambarannya tidak dirinci karena data tidak lengkap.

"Intinya adalah, tidak jelas bahwa gelombang di China didorong oleh varian, atau apakah itu hanya menunjukkan kerusakan penahanan," kata Dr Tom Peacock, ahli virologi di Imperial College, London.

Pakar mendesak semua negara harus fokus membantu China mengatasi lonjakan kasus untuk meredakan 'kolaps' fasilitas kesehatan hingga minimnya stok obat.

"Saya kira tidak ada yang bisa memprediksi dengan pasti apakah kita bisa melihat varian baru yang mungkin menjadi perhatian seluruh dunia, tapi jelas dunia harus khawatir jika orang menjadi sakit dan sekarat [di China]," kata Dr David Heymann, spesialis penyakit menular dan penasihat WHO yang duduk di komite terpisah dari Dr Koopmans.

Dr Koopmans dan anggota komite penasehat WHO lainnya akan membuat rekomendasi mereka tentang Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau status daruat COVID-19 pada akhir Januari. Meski begitu, Tedros yang nantinya membuat keputusan akhir dan tidak wajib mengikuti rekomendasi panitia.

Penunjukan darurat adalah tingkat peringatan tertinggi WHO terkait dengan wabah penyakit, dan ini membantu organisasi internasional memprioritaskan pendanaan dan bantuan untuk penelitian, vaksin, dan perawatan. Beberapa pakar kesehatan global mengharapkan China menunggu WHO mencabut status darurat sebelum melonggarkan langkah-langkah respons pandeminya sendiri.

"Dr Tedros harus mencapai keseimbangan di sini," kata kepala Kedaruratan WHO Mike Ryan kepada wartawan di Jenewa pekan lalu.

"Saya pikir dunia masih memiliki... pekerjaan yang harus dilakukan. Pekerjaan belum selesai."






















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "China Diamuk COVID-19, WHO Nggak Jadi Cabut Status Pandemi Tahun Depan?"