Hagia Sophia

22 December 2022

Pemerintah China Sebut Kematian Hanya 5 Ribu, Dari Mana Data yang 1,5 Juta?

Ilustrasi COVID-19 di China. (Foto: AP/Ng Han Guan)

China mencatat lima kasus kematian COVID-19 baru, sehingga akumulatif pasien meninggal sejak wabah merebak mencapai 5.242 jiwa per Selasa (20/12/2022). Pemerintah, melalui Komisi Kesehatan Nasional China, merilis data COVID-19 per harinya dengan pengelompokan berbeda.

Misalnya, pemerintah memutuskan hanya melaporkan secara resmi kasus COVID-19 bagi pasien yang bergejala. Alasan China berhenti melaporkan kasus tanpa gejala, lantaran kurangnya testing di antara kasus OTG, sehingga mempersulit penghitungan jumlah total secara akurat.

Per Senin (19/12) kasus COVID-19 bergejala sebanyak 2.722 kasus, meningkat dibandingkan hari sebelumnya yakni 1.995 kasus. Total kasus tersebut terpisah dari pasien penularan atau transmisi impor.

Kasus lokal sebanyak 2.656 kasus, naik dari 1.918 kasus di hari sebelumnya. Sisanya adalah impor. Per Senin (19/12), total kasus COVID-19 383.175 kasus dengan gejala.

Dalam Worldometers Corona dan data COVID-19 dunia, total kasus dihimpun pemerintah China yang dimasukkan dalam tren data tersebut.

Meski begitu, data COVID-19 di China dipertanyakan karena muncul prediksi 1,5 juta kematian akibat COVID-19. Dari mana asalnya data itu?

Dalam jurnal yang dirilis Medrxiv soal Zero COVID-19 tetapi belum peer reviewed, muncul skenario kasus COVID-19 China berdasarkan kebijakan yang diterapkan sebelum pemerintah mencabut aturan. 

Kasus COVID-19 tinggi imbas vaksin yang tidak aktif digencarkan termasuk booster, sehingga imunitas mereka yang sudah disuntik enam bulan sebelumnya menurun.

Berdasarkan hal itu, kemunculan beragam subvarian Omicron bisa membawa tsunami kasus COVID-19.

"Berpotensi menimbulkan tsunami kasus COVID-19. Selama periode simulasi 6 bulan, wabah semacam itu diproyeksikan menyebabkan 112,2 juta kasus bergejala (79,58 per 1.000 orang), 5,1 juta rawat inap di rumah sakit (non-ICU), (3,60 per 1.000 individu), 2,7 juta penerimaan ICU (1,89 per 1.000 individu) dan 1,6 juta kematian (1,10 per 1.000 individu)," terang riset tersebut.

"Menurut simulasi model kami, 41,3 persen rawat inap non-ICU dan 28,2 persen penerimaan ICU akan terjadi di antara individu yang divaksinasi. Sebagian besar rawat inap non-ICU diperkirakan terjadi pada populasi orang dewasa (26,6 persen di antara individu berusia 18-59 tahun dan 59,1 persen di antara individu berusia ≥60 tahun), sementara lebih dari 90 persen penerimaan ICU akan terjadi di antara individu berusia kurang dari 60 tahun," sambung laporan ini.





















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Data Resmi China 5 Ribu Kematian COVID-19, dari Mana Klaim 1,5 Juta Berasal?"