Hagia Sophia

15 August 2023

Polusi Buruk Jakarta Sepekan Terakhir Mendapat Perhatian Presiden, Ini Pemicunya

Ilustrasi pemicu polusi udara di Jakarta. Foto: Ari Saputra

Masyarakat DKI Jakarta dikepung polusi udara. Dalam beberapa waktu terakhir, terpantau kualitas udara di DKI Jakarta sedang parah-parahnya. Bahaya polusi udara yang kini 'ugal-ugalan' di Jakarta juga menjadi sorotan Presiden RI Joko Widodo.

"Pagi ini kita rapat terkait kualitas udara di Jabodetabek yang selama satu pekan terakhir kualitas udara di Jabodetabek sangat sangat buruk. Tanggal 12 Agustus 2023 yang kemarin kualitas udara di DKI Jakarta di angka 156 dengan keterangan tidak sehat," ungkapnya dalam Ratas di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (14/8/2023).

Menurutnya, kondisi kualitas udara yang amat buruk di Jabodetabek ini salah satunya dipicu oleh musim kemarau. Pasalnya, kemarau panjang selama tiga bulan terakhir memicu kenaikan konsentrasi polutan di udara. Kondisi itu kemudian diperparah oleh pembuangan emisi transportasi dan aktivitas industri di Jabodetabek, khususnya yang menggunakan batu bara di ranah industri manufaktur.

"Dalam jangka pendek secepatnya harus dilakukan intervensi yang bisa meningkatkan kualitas udara di Jabodetabek lebih baik. Kemudian juga rekayasa cuaca untuk memancing hujan di kawasan Jabodetabek," ujarnya.

Bukan gegara Kendaraan Bermotor?

Dalam kesempatan sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya sempat menyinggung bahwa pencemaran udara di kawasan Jabodetabek saat ini pemicu utamanya tak lain kendaraan bermotor.

"Penyebab utama pencemaran kualitas udaranya adalah kendaraan. Karena dalam catatan kami di tahun 2022, ada 24,5 juta kendaraan bermotor dan 19,2 juta itu sepeda motor," kata Siti Nurbaya dalam keterangan pers dilihat detikcom, Senin (14/8).

Beberapa waktu terakhir, beredar juga anggapan bahwa polusi di Jabodetabek kini dipicu oleh asap dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Padahal mengacu pada data dari KLHK, pencemaran udara ini tidak disebabkan oleh PLTU Suralaya, sebagaimana yang sempat terdengar.

Analisis KLHK menemukan, uap hasil cerobong asap PLTU Suralaya per 27 Juli hingga 9 Agustus bergerak tidak ke arah jakarta, tetapi ke arah selat sunda.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Jokowi Soroti Polusi Udara di Jakarta Buruk Sepekan Terakhir! Ini Pemicunya"