Hagia Sophia

04 December 2022

Banyak Petunjuk yang Mengarah COVID-19 Buatan Manusia, Benarkah?

Ilustrasi tes virus corona (Foto: Getty Images/iStockphoto/scaliger)

Seorang ilmuwan yang bekerja di laboratorium penelitian China membuat sebuah pernyataan kontroversial. Dikutip dari NY Post, ia mengklaim bahwa COVID-19 yang menyerang secara global merupakan virus buatan manusia yang bocor dari fasilitas laboratorium tersebut.

Dilaporkan The Sun pada Sabtu (03/12/2022), Epidemiolog Andrew Huff mengatakan virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 yang menyebar lebih selama lebih dari dua tahun bocor dari Institut Virologi Wuhan. Laboratorium tersebut mengundang perdebatan sengit tentang asal-usul COVID-19, dengan pejabat pemerintah China dan pekerja laboratorium menyangkal bahwa virus tersebut bocor dari fasilitas tersebut.

Huff, mengatakan dalam buku barunya, 'The Truth About Wuhan', bahwa pandemi tersebut adalah hasil dari pendanaan virus corona oleh pemerintah AS di China. Ia mengatakan kebocoran virus COVID-19 diakibatkan oleh lemahnya keamanan di China saat melakukan eksperimen.

"Laboratorium asing tidak memiliki langkah-langkah kontrol yang memadai untuk memastikan biosafety, biosecurity, dan manajemen risiko yang tepat," tulis Huff dalam bukunya.

"Pada akhirnya mengakibatkan kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan," bebernya.

Dalam dua tahun terakhir, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa virus tersebut bocor dari laboratorium. Beberapa ahli percaya bahwa virus dapat 'lolos' melalui peneliti yang terinfeksi atau pengelolaan limbah yang tidak tepat dari fasilitas tersebut.

Dilaporkan Daily Mail awal 2022, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kepada seorang politikus Eropa bahwa ia khawatir virus itu keluar dari laboratorium pada 'kecelakaan besar' pada 2019.

Huff adalah mantan wakil presiden organisasi nirlaba berbasis di New York yang mempelajari penyakit menular, Ecohealth Alliance. Kelompok tersebut telah mempelajari virus corona yang berbeda pada kelelawar selama lebih dari satu dekade dengan dana dari Institut Kesehatan Nasional (NIH) dan telah menjalin hubungan dekat dengan laboratorium Wuhan.

Huff yang bekerja di Ecohealth Alliance selama dua tahun, mengatakan bahwa organisasi nirlaba tersebut membantu laboratorium Wuhan menyusun 'metode terbaik yang ada untuk merekayasa virus corona kelelawar untuk menyerang spesies lain' selama bertahun-tahun. Ia juga menyalahkan Pemerintah AS karena telah mentransfer bioteknologi berbahaya ke China.

"Saya takut dengan apa yang saya lihat karena kami (AS) baru saja memberi mereka (China) teknologi bioweapon," ujar Huff.

Diterbitkan ProPublica/Vanity Fair baru-baru ini, Institut Virologi Wuhan merupakan fasilitas penelitian yang dikelola dan didanai oleh negara. Institut yang merupakan rumah bagi penelitian paling berisiko di China, dilaporkan telah berada di bawah tekanan besar oleh Partai Komunis China yang berkuasa untuk menghasilkan terobosan ilmiah guna meningkatkan status global China meskipun kekurangan sumber daya.






















Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Makin Banyak Petunjuk, Pakar Makin Yakin COVID-19 Buatan Manusia"