Hagia Sophia

25 July 2023

Kasus Gagal Ginjal di Singapura Naik, Tempat Cuci Darah Penuh

Singapura menghadapi kenaikan kasus gagal ginjal. (Foto: Getty Images)

Singapura melaporkan peningkatan kasus signifikan gagal ginjal. National Kidney Foundation (NKF) setidaknya mencatat setiap hari ada tambahan enam pasien dengan diagnosis penyakit tersebut.

Kemungkinan besar jumlah orang yang mengidap penyakit ginjal kronis lebih banyak dari yang dilaporkan. Estimasinya bahkan disebut melampaui 300 ribu orang.

"Mungkin tidak ada tempat dialisis yang cukup untuk pasien baru jika tidak ada perubahan," kata NKF.

Para pakar mendesak pentingnya skrining awal yang tepat dan cepat untuk mencegah sejumlah kasus ginjal kronis terus berkembang menjadi gagal ginjal. Dikutip dari Channel News Asia, setiap hari pada pukul 11 pagi setempat, pusat ginjal terbesar di Singapura dilaporkan ramai seolah-olah tengah dilanda 'perang ketiga'.

Staf perawat dan tim, berpindah dari pasien ke pasien untuk membantu mereka menjalani cuci darah. Sementara kondisi di luar ruangan, 40 pasien tengah mengantre untuk mendapatkan giliran.

Dulu tidak seheboh ini. Empat tahun lalu, ketika Shanthini, salah satu staf medis baru memulai pekerjaannya di tempat tersebut, kondisi ruangan hanya setengah penuh. Saat ini, hampir setiap tempat di fasilitas dialisis National Kidney Foundation (NKF) terisi.

"NKF menerima sekitar 100 aplikasi baru untuk tempat dialisis setiap bulan, hampir dua kali lipat dari angka lima tahun lalu," kata Direktur Medis NKF, Jason Choo.

Catatan pemerintah menunjukkan saat ini kasus gagal ginjal di Singapura bak fenomena gunung es. Hanya 9.000 di antaranya yang berhasil terdiagnosis, sementara lebih dari 300 ribu orang mengidap penyakit ginjal kronis (CKD) berpotensi mengalami kondisi demikian.

"Itu baru kasus yang terdeteksi. Untuk setiap 10 diagnosis, diperkirakan lima hingga tujuh orang tidak mengetahui kondisi mereka," kata Yeo See Cheng, Kepala Kedokteran Ginjal di Rumah Sakit Tan Tock Seng (TTSH).

"Ini berarti 200.000 lebih banyak orang dapat berjalan-jalan tanpa menyadari bahwa ginjal mereka mengalami masalah. Jika dibiarkan, CKD akan berkembang menjadi gagal ginjal," tuturnya.

"Implikasinya adalah dalam beberapa tahun ke depan, jika tidak ada perubahan, pusat dialisis atau cuci darah tidak akan memiliki tempat untuk pasien baru," kata Yeo.

Yeo juga menilai banyak pasien datang dengan kondisi stadium lanjut, sehingga pengobatan lebih sulit dilakukan. Banyak dari mereka yang tidak menyadari kondisinya sampai muncul gejala kaki bengkak dan perut gatal terus menerus.

Pada kondisi itu, ginjal pasien biasanya berada di ambang kegagalan, kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Pasien harus segera memulai dialisis, yang akan menjadi terapi seumur hidup kecuali ada tawaran transplantasi.

"Ini seperti silent killer," kata Yeo. "Karena pada tahap awal (PGK), pasien tidak memiliki gejala apapun. Mereka merasa normal, merasa sehat, meski fungsi ginjalnya menurun.

"Banyak pasien bahkan tidak menyadarinya sampai mereka berada di stadium lima, yang dikenal sebagai gagal ginjal."



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus Gagal Ginjal Ngegas! Singapura Terancam Krisis Tempat Cuci Darah"