Hagia Sophia

22 January 2024

Ini Cara Pemerintah China untuk Naikan Angka Kelahiran

Foto ilustrasi: Getty Images/Hugo Hu

Sebuah desa di Baoji, Provinsi Shaanxi, China, akan memberikan penghargaan kepada para pencari jodoh yang berhasil membantu pria muda setempat untuk menikah. Ini merupakan upaya untuk mengatasi permasalahan meningkatnya jumlah pria lajang dan mendongkrak kelahiran.

Komite Desa Xiangjianzhuang akan memberikan hadiah sebesar 1.000 yuan atau sekitar 2,1 juta rupiah untuk setiap pernikahan yang mereka fasilitasi. Program ini telah dimulai sejak 1 Januari 2024 dan akan berlanjut selama tiga tahun.

"Keputusan tersebut diambil karena meningkatnya jumlah pria muda yang belum menikah di desa tersebut," kata komite tersebut yang dikutip dari China Daily, Kamis (11/1/2024).

Menurut seorang pejabat desa, terdapat lebih dari 40 pemuda lajang berusia antara 25 dan 40 tahun di desa tersebut. Namun, angka kelahiran di sana hanya ada 7-8 bayi yang lahir.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah kelahiran ini jauh lebih rendah. Sebelumnya, jumlah kelahiran bisa mencapai 16-17 kelahiran setiap tahunnya.

"Dana tersebut bersumber dari dana kolektif desa yang disepakati secara musyawarah desa," sambungnya.

Xiangjiazhuang bukanlah desa pertama yang memperkenalkan program penghargaan bagi pencari jodoh. Awal tahun 2023, desa Qiaozhuang di Wuzhi, provinsi Henan, juga menerapkan program serupa.

Komite desa mengalokasikan 20.000 yuan setiap tahunnya untuk memberi penghargaan kepada para pencari jodoh, dengan 1.000 yuan untuk setiap pasangan yang berhasil mereka fasilitasi.

Demikian pula, daerah Langao di Shaanxi. Mereka mendirikan pusat layanan tahun ini untuk memberi penghargaan kepada para pencari jodoh dengan 1.000 yuan untuk setiap perjodohan yang berhasil. Dengan hadiah maksimum tahunan sebesar 5.000 yuan untuk setiap mak comblang.

Gui Hua, seorang profesor sosiologi di Universitas Wuhan, mengatakan bahwa langkah-langkah ini mungkin efektif dalam skala kecil. Mereka memanfaatkan kekuatan modal sosial untuk mendorong perjodohan di daerah pedesaan.

Namun, Gui mengatakan tantangan pernikahan berakar pada faktor struktural seperti ketidakseimbangan gender, yang sulit diubah.

"Aparat desa punya niat baik, jadi tidak perlu berekspektasi tinggi atau mengkritik karena hasil yang kurang," ujarnya.

Inisiatif desa ini merupakan bagian dari tren yang lebih luas di China dalam menggunakan insentif keuangan untuk mendorong pernikahan dan melahirkan anak. Pemerintah juga telah menerapkan sejumlah kebijakan lain, seperti subsidi untuk kelahiran baru sebagai upaya membalikkan penurunan angka kelahiran di negara ini.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Strategi China Genjot Angka Kelahiran, Beri Cuan Bagi para Makcomblang"