Hagia Sophia

03 June 2023

Virus Marburg Membawa Korban Hingga 88 Persen Meninggal, Sempat Bikin Waswas Dunia

Ilustrasi virus marburg (Foto: Getty Images/iStockphoto/Professor25)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat, menyebut Tanzania telah mengakhiri wabah Marburg, virus mirip Ebola dengan tingkat kematian hingga 88 persen. Ini merupakan wabah Marburg pertama yang terjadi di negara itu.

Sebelumnya, Tanzania melaporkan sebanyak sembilan kasus terkonfirmasi virus Marburg pada Maret 2023 di wilayah barat laut Kagera. Dari total tersebut, sebanyak enam orang dilaporkan meninggal dunia.

Adapun gejala Marburg meliputi demam, sakit kepala, kelelahan, muntah bernoda darah, dan diare. Marburg berasal dari keluarga virus yang sama yang menyebabkan Ebola, ditularkan ke manusia dari hewan kelelawar.

Meskipun tidak ada vaksin atau perawatan antiviral untuk Marburg, WHO mengatakan intervensi tepat waktu oleh kantor lokal bersama dengan upaya pemerintah setempat membantu mencegah penyebaran penyakit.

"Tanzania telah mampu mengakhiri wabah ini dan membatasi dampak yang berpotensi merusak dari penyakit yang sangat menular," kata Matshidiso Moeti, direkturnya untuk Afrika, dikutip dari Reuters.

Berbicara di sebuah acara di Tanzania barat laut, kepala petugas medis pemerintah Tumaini Nagu mengatakan, pedoman WHO diikuti dengan cermat sebelum menyatakan wabah telah berakhir.

Kasus terkonfirmasi terakhir di Tanzania dinyatakan negatif pada 19 April. Wabah dinyatakan berakhir setelah hitungan mundur wajib selama 42 hari.

Selama dua tahun terakhir, wabah Marburg telah terjadi di empat negara Afrika, termasuk Tanzania dan Guinea Khatulistiwa yang telah menanggapi wabah tersebut sejak Februari.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dalam jumpa pers bahwa wabah di Guinea Khatulistiwa akan diumumkan minggu depan jika tidak ada kasus lebih lanjut yang terdeteksi di sana.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kabar Baru Virus Marburg Mematikan, Sempat Bikin Waswas Jadi Next Pandemi"