Hagia Sophia

24 August 2023

Setiap Tahun 30 Ribu Warga RI Meninggal Karena Kanker Paru

Ilustrasi meninggal. (Foto: Thinkstock)

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI Eva Susanti menyebut setiap tahun ada sekitar 30 ribu orang meninggal karena kanker paru. Kematian terbanyak akibat kanker ini serupa dengan tren yang terjadi di dunia, yakni 1,8 juta kematian mengacu data Globocan 2020.

Kebanyakan pasien kanker paru di Indonesia tidak selamat lantaran terlambat didiagnosis. Walhasil, kanker sudah di tahap metastasis atau menyebar sehingga peluang kesembuhan terus menurun.

Mirisnya, dibandingkan tren banyak negara lain, kasus kanker paru di Indonesia dilaporkan berada di usia produktif, tetapi paling banyak berada di rentang 56-57 tahun.

"Selain mortalitas tinggi, peringkat ketiga jumlah kasus terbanyak setelah kanker paru, yakni kanker payudara, dan kanker leher rahim, 35 ribu kasus," tutur dr Eva.

"Sebagian besar pasien ditemukan pada stadium lanjut. Beban pembiayaan kesehatan akibat kanker menduduki peringkat kedua memakan biaya 3,5 triliun rupiah," sambungnya.

Faktor risiko kanker paru paling banyak berkaitan dengan merokok dan asap rokok, lingkungan . dr Eva memastikan Kemenkes RI saat ini meningkatkan upaya skrining di tahap layanan kesehatan primer seperti puskesmas.

Berikut kriteria kelompok yang prioritas melakukan skrining kanker paru.
  • Usia umur 45-71 tahun
  • Perokok aktif atau mantan perokok kurang dari 15 tahun
  • Perokok pasif
  • Riwayat kanker paru dalam keluarga dari bapak/ibu/saudara kandung



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "30 Ribu Warga RI Meninggal karena Kanker Paru Tiap Tahun, Terbanyak di Usia Ini"