Hagia Sophia

24 August 2023

Operasi Transplantasi Rahim dari Sang Kakak ke Adiknya

Ilustrasi. Foto: thinkstock

Ahli bedah di Inggris baru saja berhasil melakukan operasi transplantasi rahim, melalui prosedur pembedahan selama sembilan jam. Keberhasilan ini menjadi momen transplantasi rahim pertama di Inggris.

Penerima donor adalah seorang wanita berusia 34 tahun, yang tidak disebutkan namanya. Sementara donor adalah wanita berusia 40 tahun, sudah memiliki dua orang anak dan bersedia memberikan rahimnya agar sang adik bisa memiliki harapan untuk berkeluarga.

Penerima donor telah menikah dan menjalani pembekuan embrio. Ia berencana, bakal memulai prosedur bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) tahun ini.

Operasi transplantasi ini dilakukan di Rumah Sakit Churchill Oxford. Operasi berjalan tanpa hambatan dan telah membuka jalan bagi sekitar 30 operasi serupa dalam setahun ke depan. Sebagaimana disoroti oleh para dokter, keberhasilan operasi ini bak memberikan harapan baru dalam ranah medis.

Di dunia, sudah ada sekitar 50 bayi yang lahir dari prosedur transplantasi rahim. Catatan ini memberikan harapan bagi banyak wanita yang kehilangan kesempatan untuk melahirkan anak lantaran harus kehilangan rahimnya.

Para ahli juga menyebut, ada kemungkinan prosedur yang tergolong rumit ini nantinya bisa dilakukan pada pasien transgender, setidaknya dalam 20 tahun mendatang.

"Ini luar biasa. Saya pikir itu mungkin minggu paling menegangkan dalam karier saya, tetapi juga sangat positif," ungkap ahli bedah utama Profesor Richard Smith dikutip dari Daily Express, Selasa (23/8/2023).

"Saya sangat senang kami memiliki donor yang benar-benar kembali normal setelah operasi besarnya dan penerimanya, setelah operasi besarnya, berjalan dengan sangat baik dan berharap dapat memiliki bayi," ujarnya lebih lanjut.

Sebelum prosedur pembedahan berlangsung, para petugas medis sempat khawatir embrio yang akan ditransplantasikan tidak bisa diambil. Jika betul terjadi demikian, penerima transplantasi rahim nantinya harus melahirkan secara caesar setelah sembilan bulan kehamilan. Kemudian dalam enam bulan setelahnya, ia baru bisa memiliki kemungkinan lagi untuk menjalani histerektomi atau mencoba untuk memiliki bayi lagi.

Prof Smith dari badan amal Womb Transplant UK yang mendanai operasi tersebut sekaligus konsultan ahli bedah ginekologi di Imperial College London, mengatakan rahim yang ditransplantasikan 'berfungsi sebagaimana mestinya'. Walhasil, rencana IVF tersebut juga diharapkan bisa berlangsung sesuai rencana.

Setelah prosedur transplantasi ini, penerima donor harus mengonsumsi obat imunosupresan selama kehamilan untuk mencegah tubuhnya menolak organ donor.

"Operasi ini sangat sukses. Kegagalan bukanlah suatu pilihan. Donor dan penerimanya adalah dua wanita yang sangat cantik. Kami tidak bisa mendapatkan hasil yang lebih baik," beber Prof Smith.

"Kata orang, kami harus merasa bangga. Sebenarnya kami merasa lega. Aku merasa emosional dengan itu semua. Konsultasi pertama dengan penerima pasca operasi, kami semua hampir menangis," pungkasnya.

Operasi pengangkatan rahim dari sang kakak memakan waktu delapan jam 12 menit, melibatkan lebih dari 30 staf medis. Ahli bedah meninggalkan indung telur di tubuh wanita tersebut untuk mencegah menopause dini. Satu jam sebelum rahimnya diangkat, ahli bedah sudah mulai lebih dulu mengoperasi adik perempuannya dengan prosedur yang memakan waktu sembilan jam 20 menit.

Penerima donor sempat mengalami kehilangan darah sebanyak dua liter lebih tinggi dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Namun setelah 10 hari perawatan, kondisinya membaik dan pemulihannya terus berlangsung. Ia pun diperbolehkan pulang dari rumah sakit, sembari mengalami menstruasi yang teratur. Hal itu menunjukkan, rahim barunya bekerja dengan baik.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ahli Bedah Inggris Sukses Transplantasi Rahim Kakak Beradik, Ini Kisahnya"