Hagia Sophia

22 February 2024

Ribuan Dokter di Korsel Mogok Kerja, Ini Alasannya

Foto: Getty Images/Chung Sung-Jun

Lebih dari 1.600 dokter residen di beberapa rumah sakit besar Korea Selatan 'resign' atau berhenti bekerja sebagai protes terhadap rencana pemerintah soal memperbanyak fakultas kedokteran.

Aksi mogok kerja berlangsung pada Selasa (20/2/2024), pasca sebelumnya juga dilaporkan pengunduran diri massal yang dilakukan sekitar 6.500 dokter dari 13 ribu yang bekerja di RS besar.

Hal ini jelas berdampak pada penanganan pasien, terutama prosedur bedah dan pengobatan yang terpaksa ditunda. Pemerintah Korsel sebelumnya ingin meningkatkan penerimaan calon dokter dengan membuka fakultas kedokteran yang ditargetkan mampu menampung tambahan 2.000 orang di tahun ajaran 2025.

Targetnya, pembukaan calon dokter bisa terus bertambah hingga 10 ribu pada 2035. Pemerintah setempat menilai mereka termasuk salah satu negara dengan rasio dokter per penduduk terendah di antara banyak negara maju.

Meski banyak protes, Presiden Korsel Yoon Suk-yeol mengatakan pemerintah tidak akan mundur mengenai rencana tersebut. Hal ini dinilai sebagai bentuk reformasi yang diperlukan.

Yoon Suk-yeol menyebut reformasi menjadi langkah penting untuk mempersiapkan perawatan bagi populasi negara yang mengalami 'aging population'.

Protes para dokter terkait penolakan keras terhadap rencana peningkatan tajam pembukaan fakultas kedokteran, dilatarbelakangi dengan kekhawatiran kualitas layanan.

Para dokter juga disebut sangat khawatir bahwa reformasi tersebut dapat mengikis gaji dan status sosial mereka.

Asosiasi Medis Korea telah menuduh pemerintah menerapkan kebijakan populis menjelang pemilihan legislatif bulan April.

"Mereka mengatakan perubahan ini akan meningkatkan jumlah pengunjung yang datang ke rumah sakit dan berdampak negatif pada sistem asuransi kesehatan."

Rumah sakit besar mengumumkan bahwa mereka mengubah jadwal operasi dan janji temu pasien. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk mencegah pasien yang sakit parah tidak dapat menerima pengobatan," kata Wakil Menteri Kesehatan Park Min-soo pada hari Selasa.

Hukum Korea Selatan membatasi kemampuan staf medis untuk melakukan mogok kerja. Polisi telah memperingatkan penangkapan bagi penghasut mogok pekerjaan.

Sementara para dokter mengatakan ancaman tindakan hukum yang dilakukan pemerintah mirip dengan perburuan 'penyihir'.

Populasi Korea Selatan yang berjumlah 52 juta jiwa memiliki 2,6 dokter per 1.000 orang pada 2022, jauh di bawah rata-rata 3,7 untuk negara-negara yang tergabung dalam Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan.

Rencana pemerintah populer di kalangan masyarakat. Berdasarkan jajak pendapat Gallup Korea pekan lalu, sekitar 76 persen warga Korea Selatan mendukung upaya peningkatan jumlah mahasiswa kedokteran, di tengah kekhawatiran akan kekurangan dokter di bidang pediatri, unit gawat darurat, dan klinik di luar wilayah Seoul.

Namun kelompok dokter dan mahasiswa kedokteran mengatakan jumlah dokter sudah mencukupi dan peningkatan jumlah dokter dapat menyebabkan prosedur medis yang tidak perlu dan melemahkan keuangan rencana asuransi kesehatan nasional.

Asosiasi Perguruan Tinggi Kedokteran Korea telah menyerukan peningkatan penerimaan yang jauh lebih rendah yaitu sebesar 11 persen.

Pengunduran diri pada hari Senin tidak diterima. "Namun sekitar 1.630 staf medis telah pulang pada Senin," menurut Kementerian Kesehatan.

Perdana Menteri Han Duck-soo, yang telah memohon kepada para dokter untuk tidak menyandera nyawa dan kesehatan masyarakat, memerintahkan tindakan darurat seperti penggunaan telemedisin, lebih banyak operasi di rumah sakit umum dan pembukaan klinik militer.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ramai-ramai Ribuan Dokter di Korsel Mogok Kerja, Ada Apa?"