Hagia Sophia

22 February 2024

Satelit ERS-2 Milik Eropa Akan Masuk Kembali ke Bumi dan Terbakar

Artwork ilustrasi satelit ERS-2 meluncur ke Bumi. Foto: ESA

Satelit milik European Space Agency (ESA) diperkirakan akan masuk kembali ke Bumi dan sebagian besar terbakar di atmosfer pada Rabu (21/2/2024). Pihak ESA bersama jaringan pengawasan internasional tengah memantau dan melacak satelit pengamat Bumi ERS-2 itu.

Diperkirakan satelit tersebut masuk kembali ke Bumi pada Rabu pukul 11.32 dengan rentang ketidakpastian sekitar 4,5 jam.

"Karena masuknya kembali pesawat ruang angkasa itu bersifat 'alami', tanpa kemungkinan untuk melakukan manuver. Mustahil untuk mengetahui secara pasti di mana dan kapan ia akan masuk kembali ke atmosfer dan mulai terbakar," ungkap pihak ESA dalam keterangannya yang dikutip detikINET dari CNN, Rabu (21/2/2024).

Waktu pasti masuknya kembali satelit masih belum jelas karena aktivitas Matahari tidak dapat diprediksi, yang dapat mengubah kerapatan atmosfer Bumi dan bagaimana atmosfer menarik satelit Untuk diketahui, saat ini Matahari sedang mendekati puncak siklus 11 tahunnya yang dikenal sebagai solar maksimum, yakni ketika aktivitas Matahari meningkat.

Solar maksimum diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun ini. Meningkatnya aktivitas Matahari sudah berdampak pada percepatan masuknya kembali satelit Aeolus milik ESA pada Juli 2023.

ESA menjelaskan satelit ERS-2 diperkirakan memiliki massa seberat 2.294 kilogram setelah bahan bakarnya habis, sehingga ukurannya serupa dengan puing-puing luar angkasa lainnya yang masuk kembali ke atmosfer Bumi.

Pada ketinggian sekitar 80 kilometer di atas permukaan Bumi, satelit tersebut diperkirakan akan pecah dan sebagian besar pecahannya akan terbakar di atmosfer. ESA menyebut beberapa pecahan mungkin mencapai permukaan planet ini, tetapi tidak mengandung zat berbahaya dan kemungkinan besar akan jatuh ke laut.

"Dan perlu digarisbawahi bahwa tidak ada unsur yang mungkin masuk kembali ke atmosfer (dan mencapai permukaan) yang bersifat radioaktif atau beracun," kata ESA Earth Observation Ground Segment Departement, Mirko Albani dikutip detikINET dari BBC.

Sebagai informasi, satelit pengamat Bumi ERS-2 pertama kali diluncurkan pada tanggal 21 April 1995 dan merupakan satelit tercanggih di jenisnya pada saat itu yang dikembangkan dan diluncurkan oleh Eropa. Bersama kembarannya, ERS-1, satelit ini mengumpulkan data berharga tentang tutupan kutub, lautan, dan permukaan daratan serta mengamati bencana seperti banjir dan gempa Bumi di daerah terpencil.

ESA juga mengatakan data yang dikumpulkan oleh ERS-2 masih digunakan sampai sekarang. Di tahun 2011, ESA memutuskan untuk mengakhiri operasi satelit dan melakukan deorbit daripada menambah pusaran sampah luar angkasa yang mengorbit di planet ini.

Satelit tersebut melakukan 66 manuver deorbiting pada bulan Juli dan Agustus 2011 sebelum misi tersebut secara resmi berakhir pada akhir tahun di tanggal 11 September. Manuver tersebut membakar sisa bahan bakar satelit dan menurunkan ketinggiannya, membuat orbit ERS-2 berada pada lintasan yang berputar secara perlahan, lebih dekat ke Bumi dan masuk kembali ke atmosfer dalam waktu 15 bulan.

Sejauh ini belum ada informasi lebih lanjut terkait masuk kembalinya satelit ERS-2 ke atmosfer Bumi.


























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Satelit Usang ERS-2 Milik Eropa Diperkirakan Jatuh ke Bumi dan Hancur"