Hagia Sophia

10 July 2023

Mengenal Prosedur dan Risiko Induksi Persalinan

Foto: Getty Images/iStockphoto

Bagi wanita, waktu menjelang melahirkan adalah masa yang mendebarkan. Sebab, banyak kejadian dimana ibu hamil harus melakukan induksi untuk dapat melahirkan bayi mereka secara normal tanpa pembedahan.

Sebenarnya, apa itu induksi dalam persalinan? Induksi adalah metode untuk merangsang kontraksi pada ibu hamil. Dirangkum dari berbagai sumber, induksi adalah solusi yang tepat apabila terdapat risiko yang mengancam kesehatan ibu dan bayi. Simak artikel ini untuk penjelasan mengenai apa itu induksi, bagaimana prosedurnya, dan risikonya.

Apa Itu Induksi Persalinan?

Induksi adalah istilah yang digunakan dalam proses persalinan. Istilah ini merujuk pada proses pendorongan rahim untuk melakukan kontraksi sebelum persalinan dimulai. Tujuannya adalah agar ibu hamil dapat melahirkan bayinya secara normal.

Dalam beberapa kasus kehamilan, induksi harus dilakukan karena berbagai faktor, utamanya adalah jika terdapat risiko yang mungkin dialami oleh ibu dan bayi. Tingkat keberhasilan induksi persalinan, salah satunya, dapat ditinjau melalui seberapa lunak dan melebarnya serviks. Selain itu, usia kehamilan pun harus dipantau sebelum memutuskan untuk melakukan induksi.

Alasan Induksi Persalinan Dilakukan

Induksi persalinan dilakukan karena beberapa alasan, seperti yang disebutkan oleh Mayo Clinic berikut ini:
  1. Tidak ada persalinan padahal sudah mendekati 1 hingga 2 minggu setelah tanggal jatuh tempo kelahiran
  2. Tidak ada persalinan setelah ketuban pecah
  3. Infeksi rahim atau korioamnionitis
  4. Perkiraan berat bayi kurang dari per 10 untuk usia kehamilan, yang artinya pertumbuhan janin terhambat
  5. Jumlah cairan ketuban atau oligohidramnion di sekitar bayi tidak mencukupi
  6. Ibu mengidap diabetes yang berkembang selama mengandung (diabetes gestasional), atau sudah menderita diabetes dari sebelum hamil
  7. Tekanan darah tinggi yang menyebabkan tanda-tanda kerusakan pada sistem organ lain (preeklampsia) selama kehamilan
  8. Tekanan darah tinggi sebelum hamil yang berkembang sebelum 20 minggu kehamilan (tekanan darah tinggi kronis) atau setelah 20 minggu kehamilan (hipertensi gestasional)
  9. Kondisi medis tertentu seperti penyakit jantung, paru-paru, ginjal, dan obesitas
  10. Plasenta terkelupas sebagian atau seluruhnya dari dinding dalam rahim sebelum persalinan.
NHS sendiri mengatakan bahwa induksi harus dilakukan jika ketuban pecah lebih dari 24 jam sebelum memulai persalinan, karena ada kemungkinan ibu dan bayi akan terinfeksi. Perlu diingat bahwa keputusan untuk melakukan induksi diambil dengan berbagai pertimbangan.

Beberapa faktor yang menjadi acuan evaluasinya yakni kesehatan ibu dan kondisi serviks, kesehatan bayi, usia kehamilan, berat badan, ukuran, dan posisi janin di dalam rahim.

Bagaimana Prosedur Induksi Persalinan?

Terkait prosedur induksi untuk persalinan, NHS menjelaskan prosesnya dengan detail. Pertama, kontraksi dirangsang dengan cara memasukkan tablet (pessary) atau gel ke dalam vagina ibu hamil. Proses induksi sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama, terutama apabila leher rahim harus dilunakkan.

Selanjutnya, ibu akan diminta untuk menunggu di kamar khusus rumah sakit bersalin selama proses induksi. Jika kontraksi tak kunjung terjadi setelah 6 jam, maka akan diberi tablet atau gel lainnya.

Setelah itu, ibu harus menunggu lagi selama kurang lebih 24 jam. Apabila tak ada kontraksi juga setelah 24 jam, dosis akan ditambahkan. Dalam beberapa kasus, diperlukan tetesan hormon untuk mempercepat persalinan.

Meski menggunakan metode induksi untuk membuka jalan persalinan, prosesnya membutuhkan waktu normal seperti pada umumnya. Namun, ada beberapa ibu melahirkan yang butuh waktu 24 hingga 48 jam.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Apa Itu Induksi Persalinan? Ini Prosedur dan Risikonya"