Hagia Sophia

06 August 2023

Muncul Varian Baru COVID-19 yang Picu Lonjakan Kasus di Inggris

Ilustrasi situasi COVID-19 di Inggris (Foto: AP/Frank Augstein)

Baru-baru ini ditemukan varian baru COVID-19 yang tengah merebak di Inggris. Badan keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) telah membunyikan alarm tentang varian baru bernama 'Eris' atau subvarian Omicron EG.5.1, setelah pertama kali diangkat sebagai variant under monitoring (VUM) pada Juli.

Tingkat rawat inap juga mulai melonjak, memicu kekhawatiran bahwa negara tersebut mungkin akan dilanda gelombang COVID-19 baru.

"Tingkat kasus COVID-19 terus meningkat minggu ini dibandingkan dengan laporan kami sebelumnya. 5,4 persen dari 4.396 spesimen pernapasan yang dilaporkan melalui Sistem Data Mart Pernafasan diidentifikasi sebagai COVID-19. Ini dibandingkan dengan 3,7 persen dari 4.403 dari laporan sebelumnya," kata UKHSA dalam sebuah laporan.

Varian 'Eris' ini telah diklasifikasikan sebagai varian yang diperhatikan pada 31 Juli setelah prevalensinya tercatat di negara tersebut karena meningkatnya kasus secara internasional, khususnya di Asia.

Para ahli menduga bahwa varian tersebut muncul imbas efek 'Barbenheimer', mengacu pada film Barbie dan Oppenheimer yang dirilis pada 27 di Inggris, yang mungkin telah berkontribusi pada peningkatan infeksi. Selain itu, efek cuaca buruk belakangan juga memicu daya tahan tubuh menurun.

"COVID akan terus berubah dan beradaptasi," ucap Dr Simon Clarke, ahli mikrobiologi di Reading University kepada MailOnline.

"Jadi kita tidak perlu kaget atau khawatir hanya karena varian baru muncul dan menyebabkan peningkatan jumlah infeksi. Perlindungan terhadap penyakit serius yang diberikan oleh vaksinasi masih bertahan dengan baik dan sementara jumlah infeksi naik turun, rawat inap dan kematian tetap rendah," katanya lagi.

Kepala UKHSA mengklaim varian tersebut sudah memiliki keunggulan pertumbuhan 20,5 persen dibandingkan jenis varian maupun subvarian lainnya.

Data menunjukkan bahwa subvarian Omicron itu telah menyumbang 14,6 persen kasus, menjadikannya yang paling umum kedua di Inggris. Tingkat pertumbuhan didasarkan pada sampel pengujian positif yang dilakukan di rumah sakit.

"Arcturus Subvarian Omicron atau disebut XBB.1.16, itu adalah varian yang paling dominan, menyebabkan 39,4 persen dari semua kasus," menurut data UKHSA.

Spesialis penyakit menular, Professor Paul Hunter, mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan bagaimana Eris, yang secara ilmiah dikenal sebagai EG.5.1, akan mempengaruhi Inggris.

Namun, ia menyebut bahwa subvarian tersebut kemungkinan menjadi dominan di beberapa titik dan mendorong infeksi total, dan mungkin tidak secara dramatis.

"Salah satu ciri kekebalan terhadap varian baru adalah kekebalan terhadap infeksi berkurang tetapi kekebalan terhadap penyakit parah tetap kuat," katanya.

"Tidak seperti sebelumnya dalam pandemi, ketika pendorong utama gelombang tersebut adalah varian pelarian baru, pendorong utama sekarang mungkin adalah hilangnya kekebalan," lanjutnya lagi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menambahkan EG.5.1 ke dalam daftar varian Omicron yang sedang dipantau pada bulan Juli.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Duh! Muncul Lagi Varian COVID-19 Baru 'Eris', Picu Lonjakan Kasus di Inggris"