Hagia Sophia

14 September 2023

Langit DKI Sudah Tidak Biru Lagi, Ini Kata Pakar

Foto: Tim detikHealth

Analisis atmosfer Dinda Shabrina, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang aktif di media sosial menjabarkan kemungkinan di balik langit DKI Jakarta kembali 'suram' pasca dua hari sebelumnya sempat cerah. Dalam periode siang menuju sore hari sebelumnya, langit biru terlihat jelas di kawasan Mampang Prapatan hingga Bundaran HI Jakarta.

Sementara pantauan detikcom di Rabu siang (13/9/2023), langit di sekitar Tendean, Mampang Prapatan, kembali kelam dikelilingi polusi. Shabrina menyinggung perbedaan angin permukaan hari ini relatif melemah jika dibandingkan dua hari ke belakang.

Mengutip data observasi radiosonde di Wyoming, Shabrina menjelaskan parameter angin misalnya, di wilayah Soekarno Hatta, terlihat ada lapisan inversi yang mendukung penumpukan polutan partikel saat siang.

"Yang mana normalnya tren polutan di siang hari cenderung menurun karena lapisan batas planet yang tinggi sehingga polutan bisa 'bergerak bebas'. Namun, sejak tadi pagi sampai siang tadi ada kecenderungan level tidak sehat," tutur Shabrina saat dihubungi detikcom, Rabu (13/9).

Sebagai catatan, kualitas udara tidak sehat tadi siang pukul 14.00 dilihat dari situs informasi kualitas udara partikulat stasiun BMKG Kemayoran. Namun, kondisi polutan di luar kawasan Kemayoran belum tentu relevan karena polusi udara bersifat hiperlokal.

"Kalau lihat parameter angin pagi ini dari data radiosonde BMKG, jika dibandingkan dengan profil angin vertikal di pagi hari beberapa hari lalu, angin dekat permukaan cenderung melemah dibandingkan pagi hari kemarin, terlihat ada lapisan inversi yang mendukung akumulasi polutan," jelas Dinda, sapaan akrabnya, yang juga menjadi atmospheric scientist di Nafas.

Sejalan dengan pemandangan langit yang terlihat kelabu, dari jarak pandang dekat bak diselimuti kabut, padahal polusi.

"Bagi warga-warga yang sensitif (ibu hamil, asma, lansia, anak-anak dan kelompok sensitif lainnya) perlu 'perlindungan' atau minimalisir paparan polusi," sebutnya.

Sebagai informasi, ada dua parameter meteorologi penting yang perlu dilihat terkait polusi udara yakni lapisan inversi dan profil vertikal angin. Lapisan inversi merupakan lapisan yang dapat menjebak polutan dekat dengan permukaan, umumnya di pagi hari.

Sementara profil vertikal angin merupakan profil angin di setiap ketinggian yang memiliki kecepatan dan arah yang berbeda. Dilihat dari pemantauan selama ini, semakin kencang angin yang dekat dengan permukaan, ada potensi menurunkan konsentrasi polutan.

"Profil vertikal angin pada akhir Agustus lalu (31/8), terlihat ada lapisan inversi dekat permukaan di pagi harinya alhasil polutan terdeteksi tinggi," tutur dia dalam akun X pribadinya, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan.

"Sementara dari profil vertikal angin pagi, Selasa (12/9/2023), angin di ketinggian > 1 km lebih kencang dibanding akhir Agustus lalu," lanjut dia.

Artinya, potensi tren polutan cenderung menurun dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Langit DKI Sore Ini Tak Biru Lagi, Angin Kurang Kencang? Ini Kata Ahli"