Hagia Sophia

19 April 2023

Krisis Ekonomi Membuat Angka Kelahiran di Vietnam Menurun

Curhat warga Vietnam yang takut menikah hingga ogah punya anak. (Foto: Getty Images/Linh Pham)

Menyusul China dan Jepang, kini giliran Vietnam yang dihantam penurunan angka kelahiran. Statistik dari Departemen Kependudukan dan Keluarga Berencana Kota Ho Chi Minh (HCM), salah satu kota terbesar di Vietnam, menunjukkan bahwa tingkat kesuburan kota mencapai 1,39 anak per wanita usia subur.

Salah satu faktor yang membuat banyak pasangan khawatir untuk memiliki anak adalah krisis ekonomi. Kondisi ini dipicu pandemi COVID-19 yang melanda dunia dalam tiga tahun terakhir.

Hal ini diungkapkan oleh warga Kota Ho Chi Minh, Nguyễn Thanh Phúc, yang sudah menikah selama lebih dari dua tahun. Namun, sampai saat ini pria 28 tahun itu masih belum ingin memiliki anak.

"Istri saya dan saya meninggalkan kampung halaman kami untuk pergi ke Kota Ho Chi Minh untuk bekerja. Kami berencana memiliki bayi dalam beberapa tahun setelah kami menabung dan membeli rumah," beber Phúc yang dikutip dari laman Vietnamnet, Selasa (18/4/2023).

"Tapi, tekanan ekonomi akan mempengaruhi hidup kami jika kami memiliki anak sekarang," sambungnya.

Warga lainnya, Hoàng Văn Tình (34), juga mengaku faktor ekonomi yang membuatnya enggan memiliki anak. Menurutnya, saat ini pekerjaannya masih belum stabil dan gajinya juga menurun imbas pandemi COVID-19.

Kondisi ini terus berlangsung, sementara harga barang-barang yang diperlukan untuk sehari-hari terus meningkat. Inilah yang memicu lebih banyaknya orang memilih tidak ingin punya anak.

"Ketidakstabilan ekonomi akan mempengaruhi kemantapan sebuah pernikahan. Apalagi membesarkan anak itu tidak mudah. Kami harus bergiliran tinggal di rumah untuk menjaga anak kami jika mereka sakit," ungkap Tình.

"Saya dan istri juga ingin punya bayi lagi, tetapi saat ini kami sedang tidak baik-baik saja secara finansial," lanjut dia.

Di Kota Ho Chi Minh, banyak juga wanita yang mengaku takut untuk menikah dan punya anak. Mereka lebih memilih untuk mementingkan karier karena khawatir tidak bisa membesarkan anak dengan baik.

Hal ini dialami seorang wanita bernama Nguyễn Thị Ly. Wanita berusia 30 tahun itu baru akan siap untuk menikah jika penghasilan yang dimiliki sudah benar-benar stabil.

"Ketika saya memutuskan untuk menikah, saya pikir perlu memiliki penghasilan yang stabil, terutama ketika saya memiliki anak," tutur Nguyễn Thị Ly.

"Penghasilan tersebut harus cukup untuk memastikan yang terbaik untuk anak-anakku," lanjutnya.

Melihat kekhawatiran ini, Direktur Divisi Kependudukan dan Keluarga Berencana, Phạm Chánh Trung, mengatakan tingkat kesuburan yang rendah akan sangat mempengaruhi struktur penduduk kota di masa depan.

Artinya, proporsi penduduk usia muda dan usia kerja akan semakin menurun. Sementara proporsi penduduk yang berusia lanjut akan semakin meningkat.

"Kesuburan yang rendah akan menimbulkan banyak konsekuensi, membuat laju penuaan populasi semakin cepat, menyebabkan kekurangan tenaga kerja dan mempengaruhi jaminan sosial," pungkas Trung.






























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Angka Kelahiran di Vietnam Anjlok, Ini Curhat yang Takut Menikah-Ogah Punya Anak"